Mengenal HB Jassin: Kritikus Sastra Indonesia Modern

Pecinta sastra mana yang tidak tahu HB Jassin? Ia merupakan kritikus sastra modern Indonesia sekaligus sebagai dosen dan penerjemah yang piawai. Sejak muda Jassin memang sudah memiliki niat untuk menyumbangkan tenaga dan pikirannya demi kemajuan sastra Indonesia. Pada mulanya, Jassin diminta orang tuanya untuk menjadi pamong praja, tapi ia sendiri tak berminat karena sudah kepalang jatuh hati pada dunia kesusastraan.

Sebelum terkenal sebagai seorang kritikus, HB Jassin juga pernah mencoba membuat cerita pendek dan puisi. Namun ia merasa bakatnya lebih besar untuk menjadi seorang kritikus sastra ketimbang seorang sastrawan. Ia mengatakan tidak merasa gagal dalam menulis karya kreatif semacam puisi dan prosa, hanya saja ia merasa kekuatan utamanya ada pada bidang esai.

Tak hanya melakukan tugas kritik sastra saja, HB Jassin juga seorang dokumentator karya sastra sehingga bisa dikatakan bahwa hanya dirinya yang memiliki dokumentasi kesusasteraan Indonesia paling lengkap. Perlu kamu ketahui bahwa dokumentasi sasta Jassin itu berjalan lebih dari 30 tahun. Mulanya, ia menyukai kliping majalah dan dokumen. Lama kelamaan apa yang sudah ia baca dan dokumentasikan menjadi banyak yang awalnya berada di rumah keluarga kemudian sebagian dipindahkan ke kantor.

HB Jassin: Kritikus Sastra Indonesia Modern

Jassin juga punya cita-cita besar, yaitu membuat museum sastra yang paling lengkap dan menyimpan pelbagai dokumentasi tentang sastra Indonesia dari yang klasik hingga modern. Tapi hingga saat itu cita-cita ini belum terlaksana karena tidak adanya bantuan yang riil dari masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, ia melakukan kerja dokumentasi sastra seorang diri.

Berjasa memperkenalkan Chairil Anwar kepada publik

Sebagai seorang kritikus, Jassin-lah yang memperkenalkan Chairil Anwar kepada publik. Ada banyak kritikus lain yang berpendapat bahwa kehadiran Chairil ini terlalu pagi bagi masyarakat Indonesia. Namun Jassin mengatakan bahwa pembaharu selalu datang terlalu pagi kepada masyarakat dan kehadiran Chairil adalah suatu momen penting bagi kemajuan kesusastraan Indonesia saat itu.

Meskipun Sutan Takdir Alisjahbana menolak puisi-puisi Chairil Anwar, Jassin dengan teguh terus memperkenalkan penyair muda tersebut. Ia pun membuatkan buku khusus untuk Chairil, yaitu "Chairil Anwar, Pelopor Angkatan '45". Secara pribadi, Jassin berkawan akrab dengan Chairil. Bahkan beberapa kali Chairil pernah meminjam buku di Jassin tanpa pernah mengembalikan.

Karya seni yang indah bagi Jassin

Ketika berhadapan dengan karya seni, Jassin selalu berharap bahwa karya seni tersebut akan selalu memperkaya pemahaman kita mengenai manusia, masyarkaat, hubungan manusia dengan tuhan, dan lain-lain yang dituangkan ke dalam bentuk yang bernilai estetika.

Bagi Jassin sendiri, keindahan itu relatif dan bergantung pada ekspresi objek serta sensibilitas orang yang menikmati karya seni tersebut. Jika karya seni tersebut dapat membuat haru dan memperkaya perspektif si penikmat, maka akan timbul kesan indah dan estetis dalam arti yang luwes.

Penyair terbaik Indonesia menurut Jassin

Menurut Jassin, penyair terbaik Indonesia era 70-80-an adalah WS Rendra. Alasannya karena WS Rendra dalam beberapa hal lebih matang dari puisi Chairil. Rendra juga memiliki vitalitas dan intensitas yang dimiliki Chairil.

Selain itu, Rendra merupakan seorang pemain drama, penulis drama, sekaligus kepala keluarga yang membuatnya lebih matang di dalam kehidupan dan jadi padat dalam pemikiran. Hal-hal itulah yang tidak dimiliki Chairil karena ia telah meninggal dalam usia yang sangat muda.

Hingga sekarang ini tampaknya belum ada seorang pun yang mampu menandingi ketangguhan mendokumentasikan sastra Indonesia setaraf HB Jassin. Ia adalah seorang pekerja keras tak kenal lelah dan juga seorang pembaca yang telaten dalam membuat kritik-kritik sastranya.

No comments for "Mengenal HB Jassin: Kritikus Sastra Indonesia Modern"