Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Konsep Kanon Sastra, Klaim, dan Perdebatannya

Sastra.xyz - Terminologi "kanon sastra" digunakan untuk menandai daftar karya sastra yang ditulis oleh penulis tertentu dan diterima oleh para ahli atau kritikus. Dalam kesusastraan Inggris, kita tahu adanya "kanon Chaucer" dan "kanon Shakespeare". Terkadang karya lain yang dikatikan dengan seorang penulis tidak disebut sebagai "kanon" karena tak berdasarkan bukti bahwa karya tersebut memadai atau apokrif.

Dalam beberapa dekade terakhir, frase kanon sastra digunakan untuk menunjuk—dalam sastra dunia atau dalam literatur Eropa, atau literatur secara nasional di suatu negara—para penulis yang berdasarkan pertimbangan kritikus, cendekiawan, dan peneliti sebagai "karya besar/masterpiece" dan sering kali disebut sebagai sastra klasik.

Pengertian Konsep Kanon Sastra
Source: silviarita/Pixabay

Karya sastra kanonik adalah karya yang pada waktu tertentu paling banyak dicetak serta paling sering dibahas oleh kritikus sastra dan sejarawan. Kemudian, di era sekarang kemungkinan besar karya kanonik tersebut dimasukkan dalam antologi dan silabus perkuliahan perguruan tinggi dengan judul seperti "World Masterpieces", "Great American Writers", atau "Major France Authors".

Pembentukan kanon sastra

Di luar kesusastraan, penggunaan istilah kanon merujuk pada buku-buku Alkitab. Kanon pada bibel ditetapkan secara resmi oleh otoritas gereja yang telah diberikan wewenang untuk mencanangkan keputusan tersebut. Bahkan kewenangan yang dimilikinya mempunyai semacam kekuasaan untuk memberikan sanksi agama. Sebaliknya, kanon sastra merupakan produk dari konsesus yang bisa dikatakan "tidak resmi" karena didasarkan pada berbagai macam cara pandang dan perubahan dalam menilai karya tersebut.

Proses ketika seorang penulis atau karya sastra menjadi terkenal atau diakui sebagai karya kanonik disebut sebagai "canon formation". Persyaratan dan sejumlah faktor dalam proses pembentukan kanon ini boleh dikatakan rumit dan penuh perdebatan. Akan tetapi, menjadi tampak lebih jelas bahwa proses tersebut melibatkan suatu persetujuan luas dari para kritikus, sarjana, dan penulis dengan beragam sudut pandang. Artinya, karya sastra kanonik tersebut menjadi referensi dalam komunitas budaya dan dipelajari secara komprehensif dalam perguruan tinggi.

Sejumlah faktor penentuan kanon sastra tentunya bersifat interaktif dan dapat dipertahankan selama jangka waktu tertentu. Dalam "Preface to Shakespeare" (1765), Samuel Johnson mengatakan bahwa dalam kurun waktu “abad” dapat dijadikan penggalan waktu untuk menunjukkan keunggulan dari karya sastra tertentu. Misalnya, Franz Kafka, Marcel Proust, Thomas Mann, serta James Joyce—atau penulis yang lebih baru seperti Nabokov atau Milan Kundera—telah mencapai suatu prestise, pengaruh yang besar, baik dalam perguruan tinggi maupun wacana sastra sehingga ditetapkan sebagai kanon sastra.
Kanon sastra akan selalu diperdebatkan

Kapan pun sebenarnya batas-batas kanon sastra dapat selalu diperdebatkan. Sementara itu pun di dalam batas-batas tersebut ada beberapa penulis yang menjadi sentral dan penulis yang berada di posisi marginal. Terkadang ada pula seorang penulis yang sebelumnya berada di pinggiran kanon atau bahkan di luar ternyata dapat dipindahkan ke posisi sentral.

Salah satu contoh yang paling mencolok adalah John Donne, yang sudah sejak abad ke-18 dianggap sebagai penyair yang eksentrik yang menarik perhatian T.S. Eliot dan diikuti oleh Cleanth Brooks serta New Critics pada tahun 1930-an. Mereka mengagumi Donne dan mengganggap karya penyair tersebut sebagai karya besar dengan paradigma ironi dan paradoks dalam sajak-sajaknya. Dengan demikian posisi Donne pun terangkat ke tempat paling tinggi dalam kanon kesusastraan Inggris.

Sejak tahun 1970-an, terjadi perdebatan sengit mengenai pembentukan kanon sastra yang telah dianggap mapan tersebut. Pihak oposisi pada kanon mapan tersebut berasal dari kalangan kritikus yang memiliki sudut pandang teoretis yang beragam, seperti feminis, Marxis, dekonstruktif, pascakolonial, dan historisis baru.

Perdebatan sering berfokus pada masalah praktis mengenai buku apa yang diajarkan pada kurikulum perguruan tinggi, terutama dalam "mata kuliah inti" di lingkup humaniora. Tuduhan yang tersebar luas adalah bahwa kanon nyatanya tidak hanya terdapat dalam sastra, tetapi juga dalam bidang studi humanistik, yang ditentukan sedikit oleh keunggulan artistik ketimbang politik kekuasaan. Dengan kata lain, kanon dibentuk sesuai dengan ideologi, kepentingan politik, nilai-nilai kelas yang dominan, yaitu kulit putih, kaum lelaki, dan orang Eropa.

Dominasi kanon sastra dan gerakan multikulturalisme

Karena kanon sastra terlihat terlalu "Eropa-sentris" akibatnya sering muncul klaim bahwa kanon sebagian besar terdiri dari karya-karya yang menyampaikan dan mempertahankan rasisme, patriarki, dan imperialisme, serta meremehkan atau mengecualikan pencapaian artistik orang kulit hitam, Hispanik, dan etnis minoritas lainnya. Termasuk pula pencapaian artistik wanita, kelas pekerja, budaya populer, dan peradaban non-Eropa.

Tuntutan yang timbul karena kanon sastra terlalu terpusat pada Eropa adalah adanya keterbukaan pada kanon yang dianggap telah mapan dengan menjadikannya lebih multikultural, bukan Eropa-sentris. Multikulturalisme ini merupakan gerakan yang bertujuan memperbaiki ketidakadilan dari sejarah yang didominasi oleh sejarawan yang berpusat di Eropa, sehingga dapat mewakili ras dan kelompok yang terpinggirkan.

Post a comment for "Pengertian Konsep Kanon Sastra, Klaim, dan Perdebatannya"

Berlangganan via Email