Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Soneta: Sejarah, Bentuk, dan Ciri-cirinya

Sastra.xyz - Soneta adalah puisi lirik yang terdiri dari satu bait dengan empat belas baris pentameter iambik yang dihubungkan oleh skema rima. Dalam KBBI, soneta merupakan sajak yang terdiri dari empat belas bait (2 bait terdiri dari 4 baris dan 2 bait terakhir terdiri dari 3 baris) atau sajak 14 baris yang merupakan satu perasaan atau pikiran yang bulat.

Soneta ialah salah satu bentuk sajak yang paling populer dan memiliki dua gaya induk utama, yaitu dari Inggris (Elizabethan atau Shakespeare) dan Italia (Petrarchan). Kedua bentuk tersebut memiliki panjang 14 baris dan sebagian besar isinya bertema percintaan. Sering kali 8 baris pertama menunjukkan suatu persoalan yang harus diselesaikan dan 6 baris terakhir berisi penyelesaian dari persoalan tersebut.

pengertian soneta
Source: sosinda/Pixabay

Soneta ditulis menggunakan pentameter iambik. Soneta di Inggris menganut pola rima ABAB-CDCD-EFEF-GG. Sedangkan soneta di Italia menggunakan pola rima ABBA-ABBA-CDE-CDE. Bentuk formal dan struktural soneta memiliki standar tertentu ketika soneta menjadi populer. Namun seiring berjalannya waktu, para penyair menemukan cara mereka sendiri untuk menulisnya.

Eksperimen penyair terhadap bentuk dan struktur soneta telah menciptakan "jenis" soneta baru. Secara tematik memang soneta tradisional selalu berhubungan dengan satu hal utama, yaitu soal cinta. Begitu pun dalam perjalanannya, tematik soneta telah jauh berkembang dan mencakup topik seperti agama, alam, politik, dan masalah sosial.

Sejarah soneta

Soneta pada mulanya dimulai di Italia, yakni ketika penyair Franscesco Petrarch pertama kali menetapkannya sebagai bentuk puisi yang serius. Petrarch saat itu menulis dan mengoleksi banyak soneta yang ditujukan kepada seorang perempuan muda bernama Laura yang ia lihat pada suatu senja di gereja.

Perempuan tersebut tak menggubrisnya. Meski begitu, Petrarch tak berhenti sampai di situ. Ia mulai menerbitkan sekitar 260 soneta mengenai perempuan tersebut—yang kemudian diikuti dengan 100-an puisi setelah kematiannya.

Dalam sonetanya, Petrarch menggunakan permainan jenaka atas nama Laura: "I'oro" yang berarti emas; atau merujuk pada pohon laurel. Permainan jenaka tersebut bertujuan untuk menghormati sekaligus mengecam objeknya. Di satu soneta, dia memuji perempuan itu karena kecantikannya,tetapi di soneta yang lain ia mengutuknya sebagai “monster” yang menolak cintanya.

Petrarch juga menyempurnakan jenis soneta tertentu yang dikenal sebagai "blazon" (blahzohn). Blazon merupakan soneta yang memiliki fitur atau ciri dari sifat subjeknya, yang biasanya adalah perempuan, dan mendeskripsikan menggunakan hiperbola, metafora, atau simile. Contoh khas dari blazon dapat kita temukan dalam sajak Sir Philip Sidney sebagai berikut:
What tongue can her perfections tell,
In whose each part all pens may dwell?
Her hair fine threads of finest gold,
In curled knots man’s thought to hold:
But that her forehead says, “In me
A whiter beauty you may see”;
Whiter indeed, more white than snow,
Which on cold winter’s face doth grow.
That doth present those even brows
Whose equal line their angles bows,
Like to the moon when after change
Her horned head abroad doth range;
And arches be to heavenly lids,
Whose wink each bold attempt forbids.
For the black stars those spheres contain,
The matchless pair, even praise doth stain.

Kita perhatikan dalam kutipan tersebut bagaimana Sidney mengiaskan elemen rupa perempuan tersebut, seperti hair, forehead, eyebrows, eyelids, dan terakhir, eyes.

Dua bentuk pola soneta

Pola pertama. Soneta Italia atau Petrarchan (dinamai dari penyair Italia, Petrarch, abad ke-14) terbagi menjadi dua bagian utama: oktaf (depalan baris) berima abbaabba yang diikuti oleh sestet (enam baris) berima cdecde atau beberapa varian seperti cdccdc. Soneta Petrarch pertama kali ditiru di Inggris, baik dalam bentuk bait maupun subjeknya—yakni harapan dan rasa pilu dari seorang lelaki—oleh Sir Thomas Wyatt pada awal abad ke-16.

Bentuk Petrarch kemudian digunakan untuk berbagai subjek, misalnya oleh penyair Milton, Wordsworth, Christina Rossetti, DG Rossetti. Dari para penyair tersebut, soneta terkadang dibuat jadi lebih mudah secara teknis dalam bahasa Inggris (yang tidak memiliki banyak kemungkinan berima sebagaimana bahasa Italia).

Pola kedua. Bentuk soneta kedua berasal dari soneta Shakespeare yang mengembangkan bentuk bait dalam bahasa Inggris. Soneta ini terbagi dalam tiga kuatrin dan kuplet penutup: abab cdcd efef gg. Pendekatan Shakespeare terhadap soneta mewujudkan semua karakteristik yang dikenal soneta Inggris saat ini: struktur, skema rima, penyajian tema dan "persoalan" dalam tiga kuatrin, serta penggunaan volta (sebelum kuplet berakhir) pada bait untuk menjelaskan bagaimana masalahnya akan terselesaikan. Hal ini terlihat dalam prolog “Romeo and Juliet” yang mengunggulkan tema utama soneta Inggris, yakni percintaan.

Ciri-ciri soneta Italia, Inggris, dan Indonesia

Berikut ini kita akan bahas ciri-ciri soneta dari tempat asal muasalnya, yatiu Italia, kemudian berkembang di Inggris dan dilanjutkan ke Indonesia.

Untuk soneta Italia (atau Petrarchan) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Satu oktaf (delapan baris) berima abbaabba
  • Satu sestet (enam baris) dari variasi pola rima, seperti cdecde atau cdccdc
Untuk soneta Inggris (atau Shakespearean) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
  • Memiliki tiga kuatrin (terdiri dari empat bagian baris, yang juga disebut "staves"): abab cdcd efef
  • Terdapat kuplet penutup (dua baris berima): gg
Perbedaan soneta Italia dan soneta Inggris

Di Indonesia, soneta mulai diperkenalkan pada era pra-Pujangga Baru. Pola penulisannya masih didasarkan pada konvensi soneta yang terdapat di Barat atau mengacu pada soneta Angkatan 80 (De Tachtigers) di negeri Belanda. Sastrawan pemrakarsa soneta di Tanah Air antara lain Muhammad Yamin yang kemudian diikuti oleh Rustam Effendi, Muhammad Hatta, dan Sanusi Pane.

Salah satu soneta gubahan Muhammad Yamin yang bertitimangsa Juni 1921 sebagai berikut:

Pagi-pagi

Angin bertiup dahan bergoyang
membawa kabut bercampur mega
arah ke sana ke tepi telaga
ke kaki Barisan muram terbayang

Embun malam terjatuh siang
membasahi bumi, harus dahaga
sejuk nan sangat tiada berhingga
seperti bernafas, berhati riang

Danau beraup, kabur kupanjang
berombak riak sana dan sini
serta menderu, lagu dan dendang

Berapakah bersar hatiku gendang
belajar gerangan waktu begini
dengan perahu bentuk selondang

Bentuk soneta Muhammad Yamin tersebut masih sangat dekat dengan bentuk soneta asli Eropa pada umumnya (soneta Italia/Petrarcha) dengan pola abba abba cdc cdc atau kombinasi abba abba cde cde.

Bentuk soneta dari awal mula datang ke Indonesia telah melewati beberapa dekade. Berikut di bawah ini kami sajikan soneta gubahan Sapardi Djoko Damono (Kompas, 11 Januari 2009) dengan bentuk yang lebih variatif dari masa sebelumnya.

Sonet 5 

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.
Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?
Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.
Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.

Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa share jika artikel ini bermanfaat.

Post a comment for "Pengertian Soneta: Sejarah, Bentuk, dan Ciri-cirinya"

Berlangganan via Email