Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Resensi “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” – Sapardi Djoko Damono

Sastra.xyz – Dalam buku “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” kita diajak Sapardi Djoko Damono bertualang ke rimba puisi untuk menyelami bahasa, diksi, tipografi, hingga cara bagaimana penyair menuliskan sajak. Kita juga diajak untuk membaca, menafsirkan, dan melihat bangunan puisi melalui peranti-peranti yang dipakai oleh penyair. Sajak-sajak yang dibahas Sapardi umumnya populer sehingga pembaca sastra Indonesia sudah tak asing lagi dengan nama-nama tokoh sastra tersebut.

Pembahasan puisi dalam buku ini dibuat seringan mungkin, sehingga bisa menjadi teman bersantai di sore hari atau untuk mengisi waktu luang. Terlihat dari cover depannya tampak buku ini sangat “ngepop” untuk ukuran konten yang membicarakan karya sastra: puisi! Karena itu, anak milenial yang belum pernah bersentuhan dengan perpuisian modern Indonesia akan lenggang saja tanpa kepenatan menelusuri halaman demi halaman.

Anggapan bahwa puisi merupakan salah satu karya sastra yang paling sukar dipahami masih dianut sebagian besar orang. Pengakuan demikian mungkin berangkat dari pernyataan orang-orang bahwa yang tidak tahu teori tidak bisa membicarakan puisi. Nah, Sapardi mencoba menjadi jalan tengah bahwa teori dan pembacaan puisi itu dua hal yang berbeda.

Bilang Begini, Maksudnya Begitu

Apresiasi puisi

Dalam kata pengantar buku ini, Sapardi menekankan kepada pembaca sastra Indonesia bahwa apresiasi terhadap puisi itu penting. Apresiasi ini merupakan jalan kita untuk menghargai puisi. Maka hal pokok yang harus diperbuat pembaca kepada puisi adalah membacanya terlebih dahulu. Dari pembacaan ini juga akan muncul pemahaman yang berbeda dan bertingkat-tingkat sesuai dengan pengalaman pembaca terhadap kehidupan dan teks puisi tersebut.

Sapardi juga mengatakan bahwa pemahaman terhadap karya sastra itu tak perlu didahului dengan penguasaan terhadap teori sastra secara muluk-muluk. Hal ini, kata dia, justru akan membuat kita berkecil hati dan tidak semangat lagi dalam membaca karya sastra. Pernyataan dia ada benarnya juga, tapi tidak sepenuhnya benar. Pasalnya, karya sastra dan teori sastra itu saling berkaitan satu sama lain. Apalagi jika Anda merupakan seorang mahasiswa jurusan sastra, maka tak baik juga menghindari teori. Mungkin yang dimaksudkan Sapardi itu kepada publik awam, bukan mahasiswa sastra, sehingga saran dia lebih tepat.

Soalnya, masih di kata pengantar itu juga, Sapardi menekankan bahwa pertemuan langsung teks sastra dengan pembaca itu “jauh lebih penting daripada membaca teori”. Sepintas terkesan bahwa Sapardi seperti anti terhadap teori sastra karena di paragraf yang lain juga ia mengatakan bukunya ini bukanlah buku teori sastra, melainkan ajakan kepada pembaca untuk menyelami “sejumlah alat kebahasaan” yang digunakan penyair untuk menciptakan puisinya. Seakan-akan jika memang bukunya adalah teori puisi apakah lantas pembaca jadi malas untuk membacanya? Bukankah “sejumlah alat kebahasaan” yang digunakan Sapardi juga dicomot dari teori puisi untuk kebutuhan memahami puisi?

Peranti puisi

Ada sepuluh bab dalam buku ini. Setiap bab khusus membahas satu peranti puisi. Misalnya, pada bab pertama, Sapardi secara khusus membahas tipografi dalam puisi. Memang dalam membicarakan puisi, hal pertama yang akan kita temui adalah soal tipografi. Sebagai karya seni, tipografi atau bentuk puisi ini dibedakan dari bentuk teks sastra lainnya. Ia cukup unik karena bentuknya terpotong-potong dan tidak utuh berbentuk paragraf.

Tapi Sapardi luput menyertakan bahwa dalam pelbagai khazanah puisi terdapat “puisi prosais”. Puisi berbentuk prosa ini meleburkan segala macam yang membedakan keunikan puisi dengan karya sastra lain seperti cerita pendek atau novel. Jika Sapardi mengatakan pembedaan puisi dan artikel koran pada tanda baca dan susunan larik, maka dalam puisi prosais justru kita tak selalu bisa membedakan karena batas-batasnya tak kentara lagi. Dengan kata lain, pembedaan bentuk puisi dan bukan puisi mungkin terlihat jelas pada puisi yang masih mempertahankan aturan ketat, seperti soneta, gurindam, atau haiku.

Selain itu, hal lain yang “bikin greget” adalah mengenai pemilihan puisi yang ia jadikan bahan obrolan dalam buku ini sebenarnya kurang variatif. Ia hampir selalu memakai puisi dari konco-konconya, seperti Goenawan Mohamad, Rendra, dan Taufik Ismail. Ia kurang mengeksplorasi para penyair kontemporer Indonesia yang jumlahnya berjibun. Padahal dari titimangsa penerbitan buku ini adalah tahun 2014. Mungkin dengan menggunakan karya para penyair lainnya, pembaca akan menemukan keluasan dan keunikan dari pemakaian alat kebahasaan. (red)

Post a comment for "Resensi “Bilang Begini, Maksudnya Begitu” – Sapardi Djoko Damono"

Berlangganan via Email