Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Contoh Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Dingin Tak Tercatat”

Sastra.xyz – Analisis puisi “Dingin Tak Tercatat” karya Goenawan Mohamad ini kami sadur dari esai Linus Suryadi AG yang termaktub dalam kumpulan esai “Di Balik Sejumlah Nama”.

Goenawan Mohamad pada mulanya adalah seorang penyair dan penulis esai sastra. Seperti dikatakan Linus bahwa Goenawan adalah penyair suasana hati yang masih tangguh hingga sekarang (1980-an). Bahkan di tahun 2000-an juga Goenawan masih menulis sajak-sajak suasana.

Tak hanya sebagai penyair, Goenawan juga berkecimpung dalam bidang pers sedari usia muda. Menurut Linus, Goenawan tahu kapan untuk melibatkan diri pada hiruk-pikuk rutinitas dan mengambil jarak dari kesibukan di luar puisi tersebut. Hal ini terlihat dalam sajak-sajak Goenawan yang terasa sublim, sunyi, dan seakan jauh dari keramaian.

Contoh Analisis Puisi Goenawan Mohamad

Parafrasa puisi “Dingin Tak Tercatat”

Dingin Tak Tercatat


Dingin tak tercatat
pada termometer

Kota hanya basah

Angin sepanjang sungai
mengusir. Tapi kita tetap saja

di sana, seakan-akan

gerimis raib
dan cahaya berenang

mempermainkan warna

Tuhan, kenapa kita bisa
Bahagia!

1971

Dalam sajak "Dingin Tak Tercatat" terbayang seseorang sedang bersendiri—Goenawan Mohamad—duduk tanpa teman. Alam sekeliling terhampar pada dirinya.

Saat itu, cuaca redup, dingin berlebihan, "tak tercatat pada termometer". Subjek lirik duduk-duduk di pinggiran kota yang berdekatan sungai: meski angin berhembus bagaikan mengusir ia pergi dari tempat itu. Tapi ia tetap kerasan berada di situ.

Diam-diam kalbunya tercenung oleh peristiwa alam: gerimis yang bertaburan dari langit seperti terkena sihir, sehingga mempermainkan warna yang menimbulkan pesonan pada subjek lirik. Ia pun kemudian bersaksi dan melontarkan ucapan: "Tuhan, kenapa kita bisa/ bahagia?"

Analisis puisi “Dingin Tak Tercatat”

Pengucapan subjek lirik pada "Tuhan" itu dapat diartikan sebagai suatu gejolak dari "penikmatan keberadaannya". Alam diri dan alam luar Goenawan dihayati tanpa penjarakan dari momentum tersebut. Ungkapan "kita" di baris kelima bukanlah ke-kita-an pada umumnya, bukan pula seloroh terhadap sesama insan. Tapi kekitaan sebagai dan untuk memberi wujud terhadap penyatupaduan diri dengan Dia. Goenawan berada di dalam keutuhan semesta. Semesta suasana—yakni suasana bahagia.

Dalam sajak tersebut, secara implisit Goenawan menghadirkan kata "Tuhan" di tengah-tengah suasana syahdu sekaligus pernyataan rasa syukur. Apakah yang lebih syahwi, buat ujub kepada-Nya pada momentum itu, selain mengucapkan syukur?

Pernyataan seperti itu nicaya terdorong bukan oleh mekanisme oral belaka. Bukan juga karena mekanisme tradisi rutin karena hanya menimbulkan dan menambahkan rasa cinta yang banal dan tak menyentuh pancaindera. Pasalnya, semuanya berlangsung dan terjadi secara personal, pribadi, dan tidak kolektif.

Bisa disebut keterlibatan Goenawan di dalam suasana bahagia adalah keterlibatan diri pada dan dalam hidup yang bersifat eksistensial. Bahagia itu adalah di dalam suasana. Sedangkan tempo yang berjumpa tidak tentu, tidak berjangka, dan tidak bisa dinujumkan. Dia datang sekali waktu dalam laku lampah hidup insan.

Sangat mungkin Goenawan sudah merasakan suasana bahagia sebelum menulis sajak "Dingin Tak Tercatat" sebelum tahun 1966. Tidak mustahil pula momentum kebahagiaan pernah singgah tatkala ia menyelesaikan sajak "Senjapun Jadi Kecil, Kota Pun Jadi Putih".

Pengungkapan "kota hanya basah" bisa diartikan sebagai ungkapan simbolik. Kota dalam pengertian abstrak adalah nama-nama kota baik yang ada di Indonesia ataupun di negeri-negeri lain. Sedangkan kota dalam pengertian konkret adalah pusat penumpukan sekaligus pemusnahan barang-barang kebendaan, penghasil produk dari mesin-mesin mekanik, ilusi-ilusi liar hidup, dan jaringan sistem bagi suatu bangsa.

Simbol-simbol kekotaan itu tidak berbicara apa-apa terhadap Goenawan. Soalnya, manusia mengalami "suasana bahagia" yang mengatasi "kota hanya basah" dalam artian kota dalam simbol. Sedangkan suasana di sini bersifat temporer. Bukan sama sekali bersifat kekal. Sebagaimana hidup itu tidak kekal. Lantaran suasana akan selalu berubah-ubah bergantung pada situasi serta kondisi kemanusiaannya. Begitupun suasana bahagia, ia bersifat temporer.

Pengenalan diri terhadap nilai-nilai, dapat juga melalui pengenalan hidup pada suatu saat dan di suatu tempat. Termasuk pula pengenalan diri dengan momentum yang pernah dialami, ditangkap serta dikekalkan oleh Goenawan Mohamad dalam sajak "Dingin Tak Tercatat" itu.

Tatkala ia merambah kehidupan, sajak merupakan potret dari kepribadiaan sesaat penyairnya. Melalui sajak ini pun orang bisa menolak cibiran terhadap ilusi kebahagiaan. Bahwa suasana itu pada hakekatnya tak bertahan kekal, seiring tidak kekalnya usia sang penyair.

Demikian contoh analisis puisi Goenawan Mohamad yang bisa Sastra.xyz sajika untuk Anda. Semoga membantu!

Post a comment for "Contoh Analisis Puisi Goenawan Mohamad “Dingin Tak Tercatat”"

Berlangganan via Email