Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Empat Ciri-Ciri Drama Absurd yang Perlu Anda Ketahui

Sastra.xyz - Drama absurd mengacu pada gerakan sastra di negara-negara Eropa dari 1940-an sampai 1989-an. Para penulis naskah drama absurd mengikuti jejak filsuf Prancis-Aljazair, Albert Camus, terutama dalam esainya The Myth of Sisypnus yang terbit pada 1942. Dalam esai tersebut, Camus memperkenalkan istilah "philosophy of the absurd" yang bermakna: pencarian makna dan kebenaran manusia merupakan kerja yang sia-sia belaka.

Dalam esainya itu, Camus membandingkan perjuangan manusia dalam memahami dunia dan makna hidup melalui Sisyphus, yakni tokoh terkenal dalam mitologi Yunani yang dikutuk mendorng batu yang berat ke atas gunung dan kemudian batu tersebut berguling kembali ke bawah.

Para kritikus mempercayai bahwa teater absurd muncul sebagai gerakan atas keraguan dan kecemasan selama Perang Dunia 2 serta kemerosotan nilai-nilai moral dan politik. Gerakan absurditas ini kemudian berkembang pesat di Jermah, Prancis, dan Inggris, serta diikuti di negara-negara Skandinavia.

Beberapa dramawan penting pendiri gerakan ini antara lain Jean Genet (The Maids), Eugene Ionesco (The Bald Soprano), Arthur Adamov (Ping-Pong), dan Samuel Beckett (Waiting for Godot). Kematian Beckett pada 1989 banyak dipercayai orang-orang sebagai akhir dari gerakan tersebut.

Ciri-Ciri Drama Absurd

Drama absurd merepresentasikan keberadaan manusia di dunia sebagai suatu yang khaotis, tidak masuk akal. Dalam drama absurd sering kali tidak memiliki plot yang jelas dan tindakan-tindakan para tokohnya hanya berfungsi untuk memperlihatkan bahwa manusia hanyalah korban dari kekuatan sewenang-wenang di luar kendali mereka.

Begitu pun dalam dialog-dialognya sering kali mubazir. Kemudian latar dan alurnya juga tidak begitu jelas. Yang paling nampak adalah karakter tokohnya mengungkapkan rasa frustrasi melalui pernyataan filosofis yang mendalam, seperti membicarakan makna hidup dan mati, serta keberadaan Tuhan. Untuk lebis jelasnya, Sastra.xyz akan uraikan karakteristik drama absurd dari berbagai sumber.

Ciri pertama: teater absurd anti-karakter

Dalam drama absurd, tokoh-tokohnya diciptakan dengan kepribadian yang aneh dari babak pertama hingga akhir. Penulis naskah tampaknya mengkhususkan diri membentuk karakter yang absurd dan menggali keputusasaan mereka dalam hidup dan bermasyarakat.

Dalam drama tradisional, karakter tokoh dibentuk dengan kepribadiannya masing-masing beserta akal sehatnya. Penggunaan bahasa dan perilaku mereka masih masuk akal dan mudah dipahami. Sebaliknya, dalam teater absurd, tokoh-tokohnya seakan meninggalkan akal sehat dan perilaku normal.

Uniknya, karakter protagonis dalam drama absurd mempunyai kepribadian dan sifat yang khusus. Mereka terkadang berbicara sendiri secara berulang kali. Sering kali kata-kata dan kalimat yang mereka gunakan tidak teratur. Bisa dikatakan tidak ada aturan baku yang harus diikuti dalam dialog mereka. Oleh karena itu, orang awam akan mengalami kesulitan dalam memahami perkataan dan perilaku tokoh tersebut.

Contohnya, dalam Waiting for Godot, kita melihat dua gelandangan di atas panggung yang menjadi tokoh protagonis dalam drama tersebut. Dari awal hingga akhir drama, dua gelandangan itu berbicara terus-menerus. Kadang-kadang mereka berbicara satu sama lain dan terkadang berbicara sendiri. Penggunaan kata-kata mereka pun sulit dipahami pembaca dan audiens. Percakapan kedua tokoh itu pun berantakan, tanpa ada keteraturan.

Ciri kedua: teater absurd anti-bahasa

Bahasa merupakan unsur terpenting dalam karya sastra. Penggunaan bahasa dianggap sebagai kriteria untuk mengevaluasi gaya dan kemampuan penulis. Setiap penulis membentuk gaya kepenulisan mereka dalam karir sebagai sastrawan. Dalam drama tradisional, bahasa biasa digunakan dalam urutan yang logis. Misalnya, ketika seorang tokoh mengajukan beberapa pertanyaan, maka tokoh lain akan memberikan jawabannya.

Namun dalam teater absurd, bahasa tidak memiliki bentuk dan keteraturan yang tetap dan pasti. Umumnya tokoh protagonis berbicara dalam kekacauan. Misalnya, apa yang tokoh tersebut katakan bukanlah kata-kata yang diminta atau diinginkan oleh tokoh lain. Terkadang seorang tokoh menanyakan sesuatu kepada tokoh lain, tetapi tokoh lain tersebut justru mengatakan hal lain yang tidak relevan dengan topik pembicaraan.

Percakapan dalam teater absurd cenderung tidak memiliki keteraturan. Dengan demikian, apa yang mereka bicarakan tidak dimengerti oleh penonton. Beberapa menit yang lalu, tokoh-tokoh tersebut berdebat tentang siapa yang akan datang. Tapi sesaat kemudian, mereka beralih ke topik lain yang tidak relevan dan akhirnya penonton tidak dapat mengikuti alur pikiran mereka.

Kekacauan dalam dialog tokoh-tokoh drama absurd menjadi suatu keistimewaan dan membedakannya dari drama tradisional meskipun orang-orang sering kali memahaminya dengan berbagai kesulitan. Meski demikian, teater absurd menjadi populer karena mencerminkan kegelapan realitas dalam masyarakat modern.

Ciri ketiga: teater absurd anti-drama

Drama tradisional mudah dipahami dari isi dan temanya. Namun teater absurd sulit dipahami dari pelbagai aspeknya. Dari konteks zaman, drama absurd muncul pada tahun 1950-an, sedangkan drama tradisional muncul ratusan tahun sebelumnya. Drama tradisional dan teater absurd menjadi populer di waktu yang berbeda dan kemunculannya memiliki latar sosial yang juga berbeda.

Di antara kedua teater tersebut, masing-masing memiliki penulis naskah yang mewakili zamannya. Shakespeare dan Bernard Shaw adalah penulis drama tradisional dari Inggris. Sedangkan Beckett, Pinter, dan Albee merupakan anggota Theater of the Absurd. Kedua kelompok ini membentuk karakteristik dan melakukan persimpangan bahasa dan teknik arstistik yang berbeda.

Di satu sisi, drama tradisional memiliki plot yang jelas dan isinya mudah dipahami orang awam. Karakter utama sering kali memiliki perilaku dan kepribadian yang mudah dipahami. Selain itu, drama tradisional juga menggunakan bahasa yang sederhana dan sesuai dengan akal sehat. Meskipun drama Shakespeare ditulis ratusan tahun yang lalu, orang-orang di masa modern dapat memahami isinya dan menikmatinya dengan mudah.

Pada sisi lain, semakin misterius tindakan dan sifat tokohnya, maka drama absurd semakin kurang humanis. Penonton pun akan lebih sulit lagi untuk memahami dunia dari sudut pandang normal. Dengan demikian, penonton dan pembaca gagal mengidentifikasi tokoh-tokoh dalam lakon tersebut. Apalagi dengan motivasi tokoh yang tidak dapat dipahami, drama absurd secara efektif membuat kita gagal dalam mengidentifikasi karakter tokohnya.

Ciri keempat: teater absurd anti-plot

Dalam teks drama, plot merupakan unsur yang penting. Tanpa plot, bisa disimpulkan bahwa drama tidak bisa disebut drama dalam drama tradisional. Secara umum, drama tradisional diatur dalam waktu, tempat atau urutan yang logis. Anda dapat menemukan pola reguler waktu, setting tempat, dan logika dalam teater. Sebagai penonton, kita dapat dengan mudah menebak apa yang akan dilakukan tokoh protagonis berdasarkan kata-kata dan perasaan mereka. Terkadang juga penulis memberikan beberapa pentunjuk kepada penonton untuk menyimpulkan plotnya. Karena itu, tidak sulit bagi kita untuk membaca dan menikmati drama tradisional. Terlebih, kita juga terkadang dapat menebak akhir dari cerita drama.

Sebaliknya, drama absurd sering kali mengejutkan atau tidak jelas akhirnya. Plot dalam drama absurd terpecah dan tersebar. Contohnya, di Waiting for Godot, penonton tidak bisa menebak-nebak hasil akhir dari lakon tersebut. Mereka bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukan atau dikatakan kedua gelandangan pada langkah selanjutnya. Dari awal sampai akhir lakon, kita tidak tahu apa yang mereka tunggu dan apa yang mereka bicarakan. Kita hanya tahu bahwa mereka sedang menunggu dan berbicara tanpa akhir.

Di Waiting for Godot, kita tak bisa mendapatkan esensi dan tema apa pun ketika pertama kali membacanya. Faktanya, kekosongan di hati tokoh karakternya adalah inti dari drama tersebut. Kata-kata dan perilaku mereka tanpa tujuan pasti dan memberi tahu kita tentang arti keberadaan manusia. Ketiadaan adalah intinya.

Demikianlah ciri-ciri dalam drama absurd. Semoga dapat membantu…

Post a comment for "Empat Ciri-Ciri Drama Absurd yang Perlu Anda Ketahui"

Berlangganan via Email