Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dua Kumpulan Puisi Ajip Rosidi Tahun 1956

Sastra.xyz – Ajip Rosidi semenjak usianya yang masih amat muda, yaitu 18 tahun, sudah menerbitkan kumpulan puisi: Ketemu di Djalan (1956) dan Pesta (1956). Selain menulis puisi, Ajip juga menulis cerita pendek dan tinjauan kesusastraan. Sebagai pemuda di kala itu Ajip sudah menikah dan merantau ke Jakarta. Hal ini mungkin mengilhami sebagian besar puisi-puisinya dan terlihat jelas dalam dua kumpulan sajaknya ini.

Dalam kumpulan Ketemu di Djalan yang ditulis bersama Sobron Aidit dan S.M. Ardan, tampak bagaimana kegelisahan subjek lirik dalam sajak “Surat”. Ajip menulis: “panas hawa Jakarta/ abang menyandar menyepi/ segala hijau segala rindu”. Dalam bait kedua, ketiga, dan keempat juga disebutkan bahwa Jakarta merupakan kota yang “panas membara”, bukan kota yang nyaman dan tenteram sebagaimana kampungnya Ajip, Jatiwangi. 

Dalam puisi “Surat” subjek lirik menceritakan keluh kesahnya kepada si “adik” melalui surat yang ia kirimkan dari kota Jakarta. Adik di sini mungkin adalah kekasih hati si aku yang tinggal jauh dari Jakarta. Dan si aku pun seperti berharap kedatangan si adik yang mampu “mencairkan rindu”-nya. Begitu pun dalam sajak “Piknik” subjek lirik membicarakan percintaannya dengan seorang kekasih, tetapi percintaan mereka hanya “sehari cuma kami bercinta”. 

Puisi Ajip Rosidi Tahun 1956

Saja ketiga “Cikiniraya” juga menggambarkan belantara ibu kota di waktu malam. Subjek lirik melukiskan tentang pedagang kembang yang hendak pulang setelah larut malam. Kita dapat merasakan suasana malam yang lengang dengan “bangku stasion dingin” dan jalanan yang “makin rata”. Selebihnya pembaca dapat menikmati puisi-puisi lainnya yang menjadi awal karier kepenyairan Ajip Rosidi.


“Lipatan Setangan” dalam kumpulan puisi Ketemu di Djalan (1956)


Surat

panas hawa Jakarta
abang menyandar menyepi
segala hijau segala rindu

panas udara Jakarta
telah lama abang mimpi kembali
ke rumah ini ke dunia dulu

panasnya adik abang membara
rambutku terbakar menyala
harapan dada mata
semua tertunda semua

panasnya sayang panasnya
bersandar pintu bersandar jendela
angin masuk bersama nafasmu
ke marilah adik mencairkan rindu

Piknik

perawan putih berperahu ke pulau bersamaku
bertanyakan siapa ibu
dari ufuk mana abang datang?

sehari cuma kami bercinta
—pelabuhanku membuka segala pantai—
sehari cuma

Cikiniraya

pada sjaerozie

pedagang kembang menembang sumbang
dilarikan karet becak ke ujung malam
lampu-lampu jalan bersinar terang
lari bayangan
dan malam makin lengang
teng tiga dan diri sesepi orang mati

pedagang kembang mengebas ranjang
tembang riang mau pulang
sama sisa malam

malam memanjang rel kereta
bangku stasion dingin bergulat sakit dada
jalan makin rata
bening berbayang

Dalam kumpulan puisi Pesta (1956)


Persinggahan

II
kalau sudah jadi yakin
akan kehadiran orang lain
kalau sudah jadi ketetapan
ia pacu diri di lembah di pegunungan

tiba pada riba tersandar senja
bercerita kota-kota tepi laut di jantung benua

II
karena terlalu meminta
lenyap setiap bahagia

Panggilan

mesti kutinggalkan hidup tenang
mesti pergi ke kehidupan gelombang
dan mengerti riak tersenyum pedih
ia bangunkan warna tanpa dosa: putih

lalu menghabiskan hari-hari siswa
lalu menjalankan tahun usia dewasa
apa akan ditemuinya cinta kedua
apa akan dipercayainya janji setia

lebih baik melakukan panggilan jiwa
lebih baik menenggelamkan diri
dalam kehidupan malam dan aman dalamnya
karena setia tak dikatakan tak dijanjikan

Nomor 15

bergeret pintu berkarat
celoteh perempuan di pelukan hangat
angin mengibas siang

kalau kau bicara saja 
kalau gelap padamkan damba
angin mengibas malam

Penyair

bukan semata karena duka
tidak semata karena sepi
tapi hidup dihidupi olehnya

jika karena duka cuma
telah lama diam

jika dalamnya pun karena kira
telah lama tenggelam

Kediamdiaman

masihkah kita mesti bicara
—apa yang lebih menusuk dari mata?—
diam dan bunuh setiap kata

jika ingin masih
julurkan lidahmu ke mulutku penuh kasih
membeku setiap tanya
dalam dada

hidup dari mimpi ke lain ranjang
menunggu pintu terbuka lapang

Percakapan

akankah ini suatu permainan
sedang wajah jadi layu, ayip

malam terlalu tebal di matamu
hidup menjanjikan tantangan kepadaku

dekapkan wajah ke wajahku
biar malam tebal menebal bergayutan
di dinding trem lari daripadaku

akankah ini cuma permainan
sedang umur dan wajah runtuh ke bumi, ayip?

kulihat kota yang agung terkaca di matamu
kusaksikan kau ada di sana
sedang kita berangkat tua

Rampas

lama bintang tak muncul
gadis di pelukan orang

dan sejuk angin ke dada
—peluk hampa—

gadis tak kembali
dan bintang tak muncul-muncul

Jaka dan Gadis

jaka menunggu di pintu
gadis cuma lalu

jaka selalu rindu
dan gadis bukannya tak tahu

jaka hitung jerajak
sang gadis enggan diajak

jaka melupakan hayal-hayal begini
gadis pura-pura merindukan mati

jaka kini berhati pilu
pada gadis yang tak mau tahu

Post a comment for "Dua Kumpulan Puisi Ajip Rosidi Tahun 1956"

Berlangganan via Email