Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Teori Marxisme dalam Sastra

Sastra.xyz - Teori Marxisme dalam sastra mulanya didasarkan pada gagasan bahwa sastra merupakan produk kekuatan dan ideologi sosial. Akan tetapi, Terry Eagleton menekankan bahwa "Teks sastra bukanlah 'ekspresi' ideologi, juga bukan 'ekspresi' ideologi kelas sosial. Teks, kata dia, adalah produk ideologi tertentu, di mana analogi produksi dalam beberapa hal telah disesuaikan... Hubungan antara teks dan produksi adalah hubungan kerja".

Dalam hal ini, Marxisme ialah salah satu bentuk materialisme dialektis yang menyatakan bahwa semua realitas sosial pada dasarnya bersifat "material". Bahwa mereka memiliki asal usul dan berada dalam kerja dan memproduksi produk tertentu dalam sejarah masyarakat adalah sejarah transformasi dialektis dalam hubungan antara kerja dan produksi.

Menurut Marx, terdapat dua kelas sosial, yakni kapitalis dan proletariat. Ia menemukan antagonisme di antara kelas-kelas tersebut yang merupakan bagian dari sejarah panjang perkembangan sosial. Peradaban Barat dimulai dengan masyarakat agraris yang terstruktur di sepanjang garis kesukuan yang pada akhirnya berkembang menjadi organisasi feodal Eropa abad Pertengahan.

Mula-mula, ketika budak kontrak mendapatkan kebebasan dari tuannya, mereka memantapkan diri sebagai pengrajin-pengrajin di kota. Dari persekutuan dan organisasi profesional yang ada, serta bersamaan dengan sistem baru pada abad ke-18 memunculkan masyarakat industri dan ekonomi kapitalis.

Teori Marxisme dalam Sastra
Source: analogicus/Pixabay

Dalam buku German Ideology, Marx mencatat, "Dengan munculnya manufaktur, hubungan antara pekerja dan majikan jadi berubah. Begitu pun hubungan patriarkhal antara pekerja harian dan tuannya senantiasa terlihat. Dalam manufaktur tercipta hubungan moneter antara pekerja dan kapitalis: sebuah hubungan yang di pedesaan dan di kota-kota kecil selalu mempertahankan sistem patriarkhal."

Pembagian kerja dalam masyarakat kapitalis menyebabkan terciptanya kepemilikan pribadi dan kontradiksi yang muncul karena distribusinya yang tidak merata. Perjuangan kelas di masyarakat kapitalis adalah hasil yang logis dari suatu proses sejarah yang akan sampai pada kesimpulan setelah kelas pekerja merebut cara-cara produksi dan menciptakan "kediktatoran proletariat": masyarakat komunis tanpa kelas.

Dengan demikian, Marxisme klasik adalah suatu determinisme sejarah, yang berarti bahwa analisis sejarah dapat dilanjutkan berdasarkan garis ilmiah. Bahkan, Louis Althusser menyebut Marxisme sebagai "sains sejarah". Sedangkan kaum Marxis kontemporer menganggap tesis materialis dan deterministik ini penting untuk analisis sosial dan budaya. Mereka pun menyusun teori-teori determinasi yang kompleks dan tidak terlalu mengandalkan aspek mekanistik dari cara-cara produksi.

Berikut ini Sastra.xyz paparkan beberapa konsep penting teori sastra dalam Marxisme berdasarkan gagasan para filsuf Marxis, seperti Georg Lukacs, Antonio Gramsci, Raymond Williams, dan Louis Althusser.

Lukacs: “kesadaran palsu” ideologi 

Teori sosial Marxis dimulai dengan basis suprastruktur yang mengacu pada mode produksi serta formasi dan hubungan kelas. Suprastruktur ini mengarah pada institusi tradisi sosial dan budaya yang menopang ideologi kelas penguasa. Istilah ideologi ini juga mengacu pada gagasan yang mengatur elemen sosial dan budaya dari suprastruktur.

Sejak digunakan oleh Marx, terminologi tersebut telah mengalami sejumlah penyempurnaan sekaligus komplikasi dalam hubungan antara ideologi dan cara produksi. Misalnya, Georg Lukacs berpendapat dalam History of Class Consciousness, bahwa analisis materialis harus memperhatikan dirinya lewat "hubungan dengan masyarakat secara keseluruhan", yang kemudian ia tambahkan, "masyarakat sebagai totalitas konkret, sistem produksi pada titik tertentu dalam sejarah, dan pembagian masyarakat yang dihasilkan ke dalam kelas-kelas." Hanya ketika hubungan dengan totalitas sosial ini terbentuk, kata Lukacs, maka "...kesadaran akan eksistensi manusia pada waktu tertentu muncul dalam semua karakteristik esensial."

Ideologi, menurut Lukacs, adalah bentuk kesadaran palsu yang terlihat setiap kali kesadaran subjektif dari kelas tertentu (umumnya kelas penguasa) dianggap sebagai kesadaran objektif masyarakat secara luas. Hal ini bukan hanya pertanyaan tentang nilai yang baik atau buruk, melainkan lebih pada pengabaian proses perkembangan sejarah yang dialektis secara mendasar.

Gramsci: intelektual tradisional dan organik

Seorang Marxis Italia, Antonio Gramsci, justru memperhalus pandangan Lukacs mengenai ideologi dan mengemukakan model dua tingkat suprastuktur:
  • Masyarakat sipil lebih sesuai dengan fungsi hegemoni yang dijalankan oleh kelompok dominan di dalam masyarakat
  • Masyarakat politik lebih sesuai dengan dominasi langsung atau perintah yang dilaksanakan melalui negara dan pemerintahan yuridis. Fungsi-fungsi  yang dimaksud bersifat organisasional.
Sejatinya hegemoni bekerja melalui mode konsesus dan persetujuan kelembagaan (contohnya, universitas, partai politik, birokrasi negara, atau korporasi). Tujuan dari kelompok sosial yang dominan ialah mencapai tujuan hegemoni dengan memperluas ideologinya, yakni nilai, keyakinan, dan cita-cita, ke setiap lapisan masyarakat. Gramsci dan para penerusnya mengartikulasikan gagasannya untuk menggambarkan kaitan antara individu dan institusi sosial, konsesus, serta persetujuan ideologis yang dapat menciptakan jalinan erat secara sosial dan budaya.

Sebenarnya, Gramsci tertarik pada peran intelektual, terutama mereka yang terlibat, baik secara pasif maupun aktif, dalam mendukung kelas dominan dan ideologinya. Menurut dia, "Para intelektual adalah 'wakil' kelompok dominan yang menjalankan fungsi subaltern dari hegemoni sosial dan pemerintahan politik".

Kemudian Gramsci menggambarkan dua kelompok yang berbeda, yaitu intelektual tradisional (pendeta, profesor, penulis, seniman) yang relatif menikmati otonomi, serta intelektual organik, yaitu para "spesialis" yang "diciptakan oleh setiap kelas baru secara bersama-sama". Keduanya bekerja di dalam masyarakat dan mempertahankan kondisi sosial yang ada. Namun sebagian besar intelektual organik dalam masyarakat kapitalis tidak efektif dan "terstandardisasi" sebagai pendukung ideologi dominan.

Para intelektual tradisional, "menampilkan diri mereka sebagai otonom dan independen dari kelompok sosial yang dominan," jelas Gramsci. Ia menyarankan bahwa satu-satunya alternatif dari jaringan sosial yang tersebar luas pada intelektual tradisional adalah dengan menciptakan "counter hegemony", terutama di antara para intektual dan aktivis kelas pekerja.

Raymond Williams: ideologi adalah fenomena kompleks

Pada titik lain, Raymond Williams memahami pentingnya pemikiran ulang mengenai ideologi Gramsci. Menurutnya, ideologi adalah fenomena yang kompleks dan multivalen. Dia mencatat bahwa ideologi dapat merujuk tidak hanya pada "karakteristik sistem kepercayaan dari kelas atau kelompok tertentu", tetapi juga sebagai "ilusi keyakinan" (Lukacs menyebut sebagai "kesadaran palsu") yang berbeda dengan "realitas ilmiah".

Definisi kedua dapat digabungkan dengan yang pertama jika seseorang berpendapat, seperti yang dilakukan beberapa intelektual Marxis, bahwa semua kepercayaan yang berbasis pada kelas di tingkat tertentu adalah ilusi. Untuk memperumit hal tersebut, Williams menembahkan kemungkinan ketiga: ideologi adalah "proses umum produksi makna dan ide". Kemudian Williams menyimpulkan bahwa terlepas dari kesulitan membentuk definisi tunggal, maka perlu sampai pada istilah yang umum "untuk menggambarkan tidak hanya produk, tetapi juga proses pemaknaan, termasuk penandaan pada suatu nilai."

Dalam kesempatan lain, Williams juga mengacu kepada Gramsci dalam diskusinya mengenai zaman yang tumpang tindih dalam formasi sosial dan budaya, di mana berbagai fungsi ideologi beroperasi secara bersamaan. Pada momen sejarah tertentu, seseorang tidak hanya dapat menemukan ideologi dominan, tetapi juga ideologi yang tertinggal dan yang baru muncul, yang masing-masing mewakili formasi budaya masa lalu dan kelompok sosial baru di pinggiran kelompok dominan.

Model tersebut tidak hanya menjelaskan kompleksitas dan kontradiski kapitalisme, tetapi juga mengakui adanya potensi kontra-hegemonik dalam totalitas sosial.

Louis Althusser: ideologi mewakili hubungan imajiner antara individu dan realitas

Di pihak lain, filsuf Louis Althusser menggunakan lingustik, psikoanalisis, dan poststrukturalisme untuk membaca ulang Marx. Althusser menjadi masyhur karena mengelaborasi teori ideologi Gramsci dan mekanisme spesifik hegemoni ideologi yang menciptakan subjek sosial.

Mengikuti jejak Jacques Lacan, ia berpendapat bahwa kesadaran palsu adalah konstruksi imajiner: "Ideologi mewakili hubungan imajiner individu dengan kondisi keberadaan mereka yang sebenarnya". Althusser pada titik ini mengacu pada imajiner Lacanian, yang sesuai dengan fase perkembangan pra-Oedipal.

Menurut Althusser, "formasi ideologis yang mengatur paternitas, maternitas, konjugitas, dan masa kanak-kanak" akan menghasilkan distorsi ganda dari realitas: mereka menggantikan "real" yang tidak dapat kita ketahui dan mereka menyamarkan sifat nyata dari hubungan sosial, yaitu “symbolic order”. Yang "real" juga mewakili potensi untuk melakukan kritik dan intervensi ke dalam tatanan ideologi simbolik. Seperti yang dikatakan Laclau, "Yang 'real' menjadi sebutan bagi kegagalan simbolik dalam mencapai kepenuhannya sendiri. Yang 'real' dalam pengertian itu akan mengalami efek retroaktif dari kegagalan simbolik".

Pada pertengahan 1980-an, Laclau dan Moufee mengatakan bahwa "kita sekarang berada di wilayah pasca-Marxis". Menurut Frederic Jameson, sebagaimana para pemikir post-Marxis lainnya, analisis perjuangan kelas dan masalah produksi komoditas, yang sangat sesuai dengan era kapitalisme industri dan pembentukan awal kelas-kelas modern, tidaklah cukup untuk menjelaskan cara kerja ideologi tersebut yang semakin banyak digunakan untuk mengatur kelas dan hubungan sosial.

Jameson yang merupakan salah satu kritikus Marxis besar pertama di AS menggunakan konsep penting Althusserian, yaitu "kausalitas struktural" yang membantu menjelaskan mode penentuan sejarah nonmekanistik. Yang penting di sini bukanlah hubungan ekonomi atau material langsung di antara cara-cara produksi dan bidang sosial-politik, melainkan struktur hubungan antara mode dan lintas spektrum lembaga sosial dan budaya.

Dalam banyak kasus, struktur hubungan ini tidak dapat dilihat dengan mudah. Bagi Jameson, seperti menurut pemikir post-Marxis lainnya, determinisme sejarah tetap menjadi konsep yang vital meksipun tidak lagi dianggap istilah mekanistik. Sejarah didorong oleh kebutuhan, tetapi itu bukanlah kebutuhan "besi" Marxisme klasik, melainkan kebutuhan struktur, hubungan struktural, dan kejenuhan subjek dalam hubungan tersebut.

Peralihan ke ideologi dan hegemoni mencerminkan pentingnya relasi kekuasaan sosial di tingkat suprastruktur. Hal tersebut menangkap formasi sosial dan hubungan kekuasaan yang benar-benar baru: bentuk ideologi hegemoni dan totalitas sosial yang sama sekali baru.

Pada pergantian abad ke-21, seseorang dapat melihat peralihan ke postfoundasionalisme, yang berusaha untuk mengembalikan "universalitas" secara sementara dan memberikan teori dengan dasar untuk membuat pernyataan tentang kebutuhan politik baru dan hubungan sosial baru.

Hal ini merupakan tanggapan terhadap politik postmodernisme, di mana perbedaan, performativitas, pragmatik, game theory, dan simulasi mendekonstruksi setiap totalitas sosial yang dapat dibuktikan dan material yang dapat diteorikan. Namun hal ini juga merupakan respons terhadap realitas pasar yang mengglobal dan universal serta kecepatan dalam transformasi teknologi. Dalam bidang yang bergeser dan mengglobal inilah pasca-Marxisme kontemporer menyusun strategi baru untuk memerangi hegemoni ideologis.

Post a comment for "Memahami Teori Marxisme dalam Sastra"

Berlangganan via Email