Rindu (lagi) Empat Puluh Lima

Setiap kali kubuka halaman buku ini, huruf-hurufnya tidak lagi menjadi kalimat. Mereka berubah menjadi jalan panjang yang membawaku ke Subang. Di sela aroma kertas tua, rinduku kepadamu tumbuh pelan, seperti bunga yang mekar tanpa sempat disaksikan matahari.

Rumah tetap berdiri dan senja datang seperti biasa. Namun sejak kau pergi, waktu kehilangan kebiasaannya. Ia berjalan lambat, seolah menunggumu pulang agar jam-jam kembali menemukan alasan untuk bergerak.

Aku menutup buku ini, tetapi tak pernah berhasil menutup rinduku. Sebab cinta, seperti yang diam-diam kupelajari hari-hari ini, selalu menemukan cara untuk tinggal, bahkan ketika yang dicintainya sedang berada ratusan kilometer jauhnya.