Malam itu aku mendorong pelan. Di depanku, Iliana duduk diam, sementara jalan membentang seperti cerita yang belum selesai. Lampu-lampu kota berpendar, dan aku merasa sedang membawa sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar penumpang.
Di kiri, tembok penuh coretan menjadi saksi bahwa kota ini pernah gaduh, pernah bermimpi, dan mungkin masih menyimpan banyak rahasia. Aku tersenyum sendiri. Barangkali begitulah hidup, penuh coretan yang tak selalu indah, tetapi justru membuat perjalanan menjadi berarti.
Aku terus mendorong. Iliana masih diam. Tak ada percakapan malam itu, tetapi aku tahu kelak ia akan mengingat perjalanan sederhana ini. Sebab kadang, kenangan paling mahal lahir dari jalan yang biasa-biasa saja.