Empat Obat


Aku datang ke klinik dengan wajah yang sudah menyerah. Nafas tinggal setengah. Batuk seperti gonggongan anjing tua yang frustasi. Tubuhku panas, tapi hatiku dingin. Rasanya seperti sedang dihajar kehidupan dan cuaca secara bersamaan.

Dokternya muda. Tenang. Punya suara seperti penyiar radio malam yang suka baca puisi. Ia tak banyak tanya, hanya mendengarkan dadaku dengan stetoskop, lalu mencatat sesuatu dengan pena yang bunyinya ceklik-ceklik. Lalu dia bicara: pelan, seperti sedang mengumumkan hasil ujian nasional. “Ada empat obat. Masing-masing dengan fungsinya sendiri. Harus habis.”

Aku mengangguk. Aku bukan tipe yang banyak tanya soal nama-nama asing di resep. Tapi kali ini aku hafal semuanya, mungkin karena diam-diam mereka menyelamatkanku.

Yang pertama: Ambroxol HCl. “Untuk batuk berdahak,” kata dokter. Ia tak menjelaskan lebih panjang. Tapi setelah dua hari, aku bisa merasakannya bekerja seperti petugas pembersih saluran air yang sabar. Lendir-lendir itu, yang sejak lama menempel di paru-paru, akhirnya mulai bergerak. Tiap kali aku batuk, rasanya seperti membersihkan sejarah.

Yang kedua: Masflu. Multiguna, katanya. Untuk demam, pilek, dan rasa ingin menyerah. Obat ini membuatku tidur seperti bayi, tapi berkeringat seperti buruh pabrik. Aku bangun dengan bantal basah dan rasa kantuk yang panjang, tapi juga perasaan aneh: tubuhku seperti sedang di-reset. Dihapus, disusun ulang, lalu dipulihkan.

Lalu datanglah Prednisone. Nama yang terdengar seperti karakter utama dalam film perang. “Ini untuk radang tenggorokan,” jelas dokter. Aku menelannya dengan rasa curiga, karena banyak cerita tentang obat ini: efek samping, perubahan mood, nafsu makan yang meningkat. Tapi malam itu aku bisa menelan makanan tanpa rasa seperti ditusuk jarum. Untuk pertama kalinya, roti tawar terasa seperti roti, bukan amplas.

Dan terakhir, si paling serius: Cefadroxil Monohydrate. Antibiotik. Ada perintah tegas yang menyertainya: “Harus dihabiskan. Tidak boleh setengah jalan. Jangan merasa sembuh lalu berhenti.” Aku tidak berani melanggar. Karena menurut dokter, kalau bakteri tahu kita lengah, mereka bisa bangkit lebih galak. Aku membayangkan mereka rapat di dalam tubuhku, menyusun strategi, tapi kemudian bubar begitu antibiotik datang seperti satgas dadakan.

Hari demi hari, keempat nama itu bekerja di dalam tubuhku, entah bagaimana. Mereka tidak pernah saling kenal, tapi tampaknya sudah terbiasa bekerja bersama. Mungkin ada rapat rahasia di dalam darahku, Ambroxol sebagai moderator, Masflu sebagai pemadam, Prednisone sebagai pengatur emosi, dan Cefadroxil sebagai algojo yang diam tapi mematikan.

Dan aku? Aku hanya duduk di ranjang, membaca petunjuk minum obat seperti membaca puisi lama, dan diam-diam berterima kasih. Pada dokter yang tidak banyak bicara. Pada tubuhku yang masih mau diselamatkan. Pada empat nama asing yang, selama 3 hari, menjadi teman tidurku.