Dewan Kesenian Jakarta Harus Dirombak Total

Dewan Kesenian Jakarta Harus Dirombak Total

Kepengurusan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) harus diubah dan tidak lagi ditentukan oleh Akademi Jakarta serta Gubernur DKI Jakarta, demikian dinyatakan sebagian seniman.

Ungkapan ini muncul karena meskipun kepengurusan periode lama, 1998-2001, sudah berakhir sejak Mei tapi Akademi Jakarta dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso belum bereaksi.

Sejumlah seniman mengatakan lambatnya respons ini karena proses pemilihan pengurus masih menggunakan pola-pola lama. Akademi Jakarta masih menentukan pengurus DKJ untuk kemudian diajukan kepada Gubernur.

Pola-pola lama ini, menurut Ratna Riantiarno, Ketua DKJ yang lalu, harus diubah. "Para anggota Akademi Jakarta tidak perlu lagi menentukan pilihan. Dan seharusnya diserahkan kepada para seniman," paparnya ketika dihubungi kemarin.

Menurut Ratna, anggota Akademi Jakarta adalah orang-orang "tua" yang sudah tidak terlibat dalam arus besar kesenian. Meskipun mereka mendapat masukan dari pengurus DKJ lama, tapi ketentuan akhir tetap pada mereka.

Tapi, menurut Ratna, ada banyak kendala juga yang datang dari pihak seniman, yang akhirnya proses pemilihan mau tidak mau, akan dikembalikan kepada para anggota Akademi Jakarta.

"Banyak seniman yang melakukan penolakan ketika diusulkan menjadi anggota Dewan. Mereka merasa akan terkungkung ketika masuk ke dalam satu sistem," ujarnya.

Ihwal perlunya perubahan dalam menentukan pengurus DKJ juga dibenarkan oleh Danarto, mantan anggota DKJ tahun 1972 dan 1994. Menurut Danarto, seharusnya para seniman, yang terlibat aktif dalam pergaulan sehari-hari, diberi wewenang untuk memberi masukan kepada Gubernur. Gubernur hanya melakukan persetujuan, bukan pihak yang ikut menentukan.

"Pemilihan pengurus DKJ, harus berpijak pada aspirasi seniman yang terlibat secara aktif. Karena anggota Akademi Jakarta, sudah tidak melihat persoalan kesenian saat ini," katanya.

Pendapat ini dibenarkan Sapardi Djoko Damono. Sapardi yang dihubungi kemarin menjelaskan bahwa perlu ada mekanisme memilih yang jelas dari anggota Akademi Jakarta.

"Seharusnya anggota Akademi Jakarta ditambah jumlahnya. Karena saat ini, dengan anggota yang sudah tua, mereka tidak lagi efektif menjalankan fungsi kontrolnya," ujar Sapardi, yang dikenal luas sebagai penyair dan Dekan Fakultas Sastra UI.

Dalam pandangan Sapardi, seperti halnya Akademi Prancis, jumlahnya mencapai 30 orang. Dan mereka secara aktif melakukan proses seleksi dengan ketat. Saat ini Akademi Jakarta--yang terdiri dari belasan orang dan jarang melakukan pertemuan intens--akan mempengaruhi proses kerja pengurus DKJ. Kontrol terhadap pengurus DKJ ketika terjadi penyimpangan, sudah tidak bisa lagi mengandalkan para anggota Akademi Jakarta.

Maka, yang perlu diperbarui bukan saja mekanisme pemilihan, tapi kontrol terhadap pengurus DKJ harus dihidupkan. Hal lain, menurut Sapardi, nama Akademi Jakarta sudah tidak relevan lagi.

Anggota Akademi Jakarta yang juga terdiri dari orang-orang daerah, tidak bisa diklaim mewakili Jakarta. Seharusnya nama Akademi Jakarta diubah menjadi Akademi Indonesia. Satu akademi yang mencoba menghimpun aspirasi dari berbagai daerah tentang pergolakan kesenian.

Tapi Ahmad Subhanuddin Alwy, penyair dari generasi 90-an, mengatakan jika anggota Akademi Jakarta masih melakukan gaya lama dalam menentukan pengurus DKJ, hal itu perlu dirombak secara frontal.

Tapi bagi Danarto problem lain yang amat krusial dewasa ini adalah penghargaan pihak Gubernur terhadap pengurus DKJ sangat rendah. Anggota DKJ hanya mendapat jatah uang transpor sebesar Rp 25 ribu. "Ini sangat tidak masuk akal untuk standar transportasi di Jakarta," ujar Danarto.

Seharusnya, kata Danarto, pihak Gubernur melakukan perombakan pada nilai yang diberikan pada pengurus DKJ setiap bulannya. Saat ini pengurus harian DKJ hanya menerima jatah Rp 600 ribu setiap bulannya. Standar bulanan ini, paling tidak, mempengaruhi etos kerja yang digulirkan para pengurus DKJ.

Kecilnya jatah yang diberikan pada pengurus DKJ mengakibatkan terjadinya penyimpangan dalam banyak hal. Bagi Danarto, sudah menjadi rahasia umum, khususnya di kalangan seniman, bahwa pengurus DKJ sering melakukan praktik melayani diri sendiri, dan mengabaikan pelayanan publik. (Media Indonesia, 5/7/2001)

Sitor Situmorang

Sitor Situmorang

Bagi saya, apa yang paling terkenang dari puisi Sitor Situmorang dari periode awal, yakni terbit pada 1950-an, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, bukanlah isi filsafat--misalnya tentang keisengan atau keterasingan seperti yang dinyatakan oleh sejumlah pengulas sastra--melainkan bunyi dan rupa, bahkan tertib rupa dan tertib bunyi. Ciri demikian menarik dia dari lingkaran Chairil Anwar, pembaharu dari generasinya sendiri, dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah, "raja penyair" Pujangga Baru. Amir dan Sitor tak sepenuhnya kasmaran dengan puisi modern.

Puisi Sitor gampang teringat karena, seakan-akan, ia bertimpalan dengan kesetimbangan yang hidup dalam tubuh kita. Susunan kata dan frasa Sitor segera meninggalkan gema di hati dan kepala, bukan lantaran rancangan intelektualnya atau ambisi pembaharuannya, melainkan karena kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

Namun, penggunaan bentuk puisi lama seperti pantun dan sonet, tidaklah terutama disebabkan oleh hasrat mengikatkan diri kepada masa lampau dan tradisi. Jelaslah, tertib pola demikian adalah sarana untuk menapis, juga menundukkan derau dan gebalau pengalaman modern.

Generasi Sitor, yakni Angkatan 45, menggandrungi puisi bebas, namun Sitor tidak. Akan tetapi, puisi bebas bukan dihindarinya, melainkan disadarinya sebagai kelebih-lebihan, kemubaziran, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya. Atau, ia berkehendak menjadi sang lain, the other, dari kaum modernis yang menganggap diri sebagai pendukung the tradition of the new.

Kita lihat, puisi bebas Sitor "hanyalah" bentuk yang lebih lentur-cair dari pantun dan sonetnya, meski jauh belakangan, yakni setelah 1960-an, ia berpuisi secara begitu prosais tapi seraya juga terengah-engah mengejar musik dan bunyi.

Puisi Sitor terutama juga mendedahkan rupa alam, kota, arsitektur, perempuan, alam benda. Dan itu semua bukanlah pemandangan itu sendiri, tetapi kesan atas pemandangan: bukan sebuah realisme melainkan impresionisme, di mana penyair, layaknya pelukis, membuang detail untuk menyelamatkan pandangan subyektif dari dunia obyektif.

Pemandangan yang terbentang dalam puisi Sitor boleh jadi tertib dan manis seperti lukisan Manet atau Bonnard, namun si penyair, sadar atau tak, selalu menyisipkan "filsafat" ke dalamnya, khususnya dengan kata benda abstrak, tak jarang dengan keras kepala. Misalnya, "Kesepian di sini menjadi kehadiran," tulisnya di awal puisi Place St. Sulpice. Atau, "Kebosanan abadi jadilah lupa," dalam La Ronde.

Kesepian, juga keisengan, keterasingan, kebosanan, mungkin juga kemabukan. Filsafatkah semua ini dalam puisi Sitor: suatu pandangan dunia yang tak tertawarkan lagi? Seorang penyair modern sejati, khususnya ketika modernitas masih berusia remaja, mestinya adalah sang flaneur, sebagaimana halnya Charles Baudelaire: seorang pejalan iseng yang mengalami pemandangan, dunia, sebagai hal terpecah-pecah, dekaden, tanpa teleologi--ia pencari keburukan ketimbang keindahan.

Namun Sitor adalah seorang flaneur yang tak sepenuh hati. Ia pemburu keindahan atau sisanya. Sebagai misal, kota, termasuk  Paris-nya Baudelaire (tapi seabad kemudian), masih dilihatnya dengan pengalaman pastoral. (Kita pun ingat, Chairil Anwar, yang tak membaca Baudelaire, adalah seorang flaneur pula: tak sedikit pun ia berpikir tentang pulang dan tujuan.)

Seperti penyair Cile Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan membawa kampung halamannya dalam bungkusan. Neruda seperti hendak meluaskan tanah airnya ke seluruh bumi: sedang Sitor ingin menjadi orang-dunia, namun diganduli oleh warisan leluhurnya.

Neruda kembali ke dalam sejarah dan mitologi Amerika Selatan melalui pengaruh Walt Whitman dan surealisme--cabang modernisme yang sezaman dengannya: sedang Sitor meragukan, mungkin menyangkal, asal-usulnya justru dengan menggunakan puisi lama--sonet dan pantun.

Keduanya sampai ke "jalan kiri" dengan alasan berbeda: Neruda lantaran kejenuhannya dengan puisi modern; Sitor, justru karena keberjarakannya. (Cile, dan berkas jajahan Spanyol pada umumnya, terintegrasi ke dalam modernitas Eropa; sedangkan Indonesia barulah mampu mengaku sebagai "ahli waris kebudayaan dunia".

Sitor melakukan rekonsiliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa": demikianlah keisengan (yang tak pernah sungguh-sungguh menjadi filsafat itu) digantikan ide, bahkan ideologi. Maka impresionisme menjadi realisme; dan pantun dan sonet pun bertukar dengan puisi bebas.

Sitor, sang flaneur yang bimbang itu, tak cukup radikal dalam melawan komunitasnya, sebagaimana sang komunitas juga begitu setengah hati untuk meninggalkan masa lampaunya. Maka sang "aku" berupaya menjadi "kami" atau "kita" dalam derap "revolusi". Hasilnya adalah puisi yang berteriak sebentar saja, seperti rumus yang mubazir tentang masyarakat idaman. Puisi yang cepat layu karena tak punya lagi magi kata.

Puisi Sitor selepas 1970-an adalah upaya mendedahkan "aku" kembali, sang pejalan: kini ia bukan pemburu keisengan, melainkan pengumpul cendera mata dari pelosok Nusantara dan mancanegara. Hasilnya adalah gambar yang berupaya menyedap-nyedapkan indera, rekaman seorang kelana yang takut kehilangan segara. Inilah puisi bebas yang kikuk dengan kebebasannya sendiri. Kadang diusahakannya musik atau tertib bunyi untuk melunakkan isi sajak, tapi sering sia-sia belaka.

Puisi Sitor yang terbaik, sebagaimana arus besar puisi Indonesia, menekankan "aku" dengan begitu serius. Dalam puisi demikian kita sesungguhnya tak pernah mendapatkan alam benda (still life, nature morte), karena si aku begitu dominan melingkupkan diri kepada dunia sekitar.

Demikinalha puisi kita boleh jadi tak pernah menjadi permainan--di mana kata-kata bergelut tangkap-dan-lari dengan benda-benda--melainkan "filsafat".

Kita tak mempunyai puisi tentang alam benda yang murni semisal puisi Francis Ponge atau Juan Ramon Jimenez mungkin sampai sekitar 1974--yakni sampai terbitnya Mata Pisau, kumpulan puisi Sapardi Djoko Damono.

Namun barangkali tak ada juga puisi Indonesia yang sungguh-sungguh bertolak dari filsafat namun kemudian menjadi anti-filsafat atau parodi sebagaimana puisi Zbigniew Herbert, Vasko Popa, atau Jorge Luis Borges, misalnya. Untuk menggunakan frasa Chairil Anwar "aku ini binatang jalang, dari kumpulannya terbuang", para penyair kita masih menyesali keterbuangannya, bukan menikmatinya. Kejalangannya setengah-setengah, sehingga datanglah sesal--atau kehendak bertobat. Dan untuk itu diperlukan "filsafat" atau "pedoman hidup". Ia hendak mengikat orang bijak bestari, supaya hidup ini berarti.

Tapi jika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah dari segala penjuru, "filsafat" dalam puisi singgu tak penting lagi. Itu sebabnya kita selalu kembali kepada puisi Sitor Situmorang dari 1950-an, di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni--dalam arti menjadi makhluk bermain, homo ludens--setelah kita menjadi begitu jinak, seragam, dan berguna dalam jejaring sistem.

Iseng total: menjadi "bunga di atas batu, dibakar sepi," seperti kata sebuah sajaknya: liar, keras kepala, tak menyerah. Demikianlah puisi Sitor yang terbaik, justru membuat kita mampu mengosongkan "filsafat" yang dikandungnya dengan begitu terpaksa.

Saya terbitkan catatan ringkas ini, barangkali sebagai kado kecil yang terlambat bagi penyair kelahiran Harianboho, Tapanuli Utara itu, yang berulang tahun ke-78 pada 2 Oktober lalu. (Nirwan Dewanto, Koran Tempo, 24/11/2002)


Baca juga: Biografi Sitor Situmorang

Cerita Rupa dan Mistik Danarto

Cerita Rupa dan Mistik Danarto

Dalam cerpen Kecubung Pengasihan (1968), Danarto (62) mengisahkan perempuan hamil tua, menyambung hidup dengan memakan bunga-bunga. Berkat menjalani laku "kesengsaraan", ia akhirnya bertemu dengan Tuhan, bahkan jatuh sambil menangis ke pangkuan-Nya.

Banyak pengamat lalu menyebut Danarto sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang bekerja berdasarkan sufisme dan mistik. Bahkan, seorang pengamat memasukkannya  ke dalam angkatan tahun 1970-an, yang dicirikan dengan sifat-sifat karya sufistik. Sastrawan lainnya yang dianggap memiliki kecenderungan sama ialah Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Kuntowijoyo.

Rupanya landasan sufisme hanya titik awal berangkat pada hampir setiap karya Danarto. Ia tidak sepenuhnya berada pada dunia fantasi (seperti perempuan hamil makan bunga-bunga itu), tetapi juga berangkat dari kutub realitas sosial.

Perempuan hamil "terpaksa" makan bunga-bunga karena ia kalah bersaing memperebutkan sisa makanan dari para gelandangan lainnya yang lebih cekatan. Realitas sosial perkotaan yang kejam, bukan? Di antara dunia realitas dan dunia awang-awung cerita-cerita Danarto hidup dan disebut-sebut memberi warna baru dalam khazanah sastra Indonesia.

Itu sebabnya pengarang yang setia berkemeja putih ini pernah memperoleh Hadiah Sastra dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), Hadiah Buku Utama dari Pusat Bahasa dan SEA Writes Award dari Pemerintah Thailand tahun 1988, serta memperoleh kesempatan menetap setahun di Kyoto, Jepang, untuk menulis novel dari Japan Foundation.

Lelaki berambut perak ini juga salah seorang tokoh penting pada era Sanggarbambu, Yogyakarta. Ia memilih pindah dari Yogyakarta untuk kemudian menetap sejak tahun 1964 di Jakarta, dan kini tinggal di kawasan Ciputat, Tangerang, bersama istrinya, Siti Zainab Luxfiati.

Saat menanggapi sebuah pertanyaan, tiba-tiba tangan cerpenis ini membuat coret-coretan, mirip benang kusut atau cakar ayam, di atas lembar nota sebuah warung. Secepat kilat ia berpindah ke kertas berikut, dan yang tergambar "hanya" impresi-impresi rumput ilalang.

Ini mistik jenis apa lagi?

"Bisa begini bentuknya atau bisa juga begini...," ujar Danarto, suatu siang di bulan Juli. Hampir sebulan yang lalu, tepatnya 27 Juni, ia baru saja berulang tahun. Tak ada yang istimewa dengan ulang tahun ke-62 ini, kecuali ia mengatakan bakal novelnya hilang dari komputer kerjanya. Dan, terpaksa harus menulis ulang.

Hebatnya, cerita Danarto kemudian, coretan-coretan adalah catatan harian yang telah menjadi inspirasi dari cerita-ceritanya selama 45 tahun ia menulis. Jadi, sewaktu mencorot tadi, Danarto rupanya sedang menceritakan sebuah proses kreatif: proses terciptanya cerpen-cerpen yang kemudian dicap berbau sufi dan bernuansa mistik tadi.

Tentu kemudian ada transformasi bentuk-bentuk visual ke dalam bahasa teks yang tidak terpahami. Dan Danarto, secara kebetulan, tidak fasih benar menceritakannya. Ia lagi-lagi mencoret, tetapi kali ini lebih berupa catatan tentang hikmah sufisme.

Paling penting dari catatan itu antara lain berbunyi bahwa dalam hal penciptaan derajat manusia sama dengan hewan, tumbuhan, dan alam benda serta "falsafah": tidak memiliki dan tidak dimiliki. Khas pandangan penganut pantheis, memang. Ada penyamaan antara kekuatan-kekuatan alam semesta dengan Tuhan.

Bagi rupa yang mampu ia terjemahkan ke dalam teks akan menjelma judul-judul "aneh"--setidaknya dari kacamata sastra Indonesia--seperti Godlob, Kecubung Pengasihan, Abracadabra, Armageddon, Tuhan yang Dijual, Semar Mabuk, Percintaan dengan Pohon, Setangkai Melati di Sayap Jibril, atau 7 Sapi Kurus Memakan 7 Sapi Gemuk.

Sebaliknya, rupa yang tak mampu ia terjemahkan, jadilah gambar jantung ditusuk panah dan berdarah atau penggalan kata "abracadabra" sampai kepada huruf "A" yang disusun dalam piramida terbalik. Cerpen berjudul gambar "tanda jantung tertusuk panah dan berdarah" itu pernah dinobatkan sebagai cerpen terbaik oleh majalah Horison tahun 1968.

Sastrawann Sapardi Djoko Damono, saat masih menjabat sebagai Redaktur Horison, menolak memasukkan coretan-coretan Danarto ke dalam bentuk puisi, tetapi Danarto ngotot karyanya adalah puisi. Alhasil, karya-karya itu urung dimuat Horison. Kita lalu ingat Danarto juga pernah berpameran Kanvas Kosong tahun 1973 dan Puisi Konkret tahun 1978. Dua pameran ini sempat menghebohkan dunia sastra dan rupa di Tanah Air.

Perjalanan dan cerita tadi cukup memberi gambaran bahwa lelaki kelahiran Desa Mojo Wetan, Sragen, Jawa Tengah ini, senantiasa berangkat dari bentuk. Ini juga bisa dipahami karena ia jebolan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta tahun 1961 dan mengaku sejak balita sudah melukis.

Maka dalam banyak ceritanya, terdapat adegan-adegan yang membayangkan akan sifat pictorial: gambar-gambar yang sambung-menyambung dan membentuk plot cerita. Gambar-gambar itu terkadang memotret realitas sosial, tetapi lebih sering memunculkan peristiwa-peristiwa tak terpahami. Ia bisa berupa perlambang atau parodi.

Tentu saja pembaruan Danarto pada tahun 1970-an terhadap sastra Indonesia tidak terbatas pada itu. Ia kemudian lebih dikenal dengan upayanya memasukkan unsur sufi ke dalam karya. Karya-karyanya secara beruntun terkumpul dalam antologi:
  • Godlob (1975),
  • Adam Ma'rifat (1982),
  • Berhala (1987),
  • Gergasi (1996), dan
  • Setangkai Melati di Sayap Jibril (2000),
  • serta novelnya Asmaraloka (1999), disebut-sebut telah melahirkan kecenderungan baru dalam ekspresi kesastraan.
Karya-karya cerpen Danarto telah digubah ke dalam berbagai bentuk ekspresi seni seperti teater, tari, musik, dan film. Cerpennya Nostalgia digubah koreografer Retno Maruti menjadi Abimanyu Gugur dan dipentaskan untuk yang keempat kalinya 26-27 Juli 2002 di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ).

Danarto juga menerbitkan beberapa buku esai, di antaranya Cahaya Rasul dan Begitu ya Begitu tapi Mbok Jangan Begitu. Perjalanannya naik haji tahun 1983 diabadikan dalam buku Orang Jawa Naik Haji.

"Tak enak menerang-nerangkan karya, nati disangka...," tutur Danarto. Paling penting, katanya, melaksanakan syariat. "Kalau dapat honor, misalnya, kita bagikan kepada yang memerlukan."

Kalau anak keempat dari lima bersaudara putra pasangan Djakio Hardjosoewarno dan Siti Aminah ini melukiskan ceritanya dengan situasi "absurd" yang tak terperi, itu lantaran ia rajin membaca ajaran-ajaran sufi, termasuk mendengarkan ceramah para kiai.

Kunci sepenuhnya ada pada kata-kata penyamarataan derajat manusia, hewan, pepohonan, dan alam benda dalam hal penciptaan. Maka itu, bunga-bunga, padi, pohon atau hewan yang berbicara, pada konteks Danarto tidak sekadar sebuah personifikasi. Ia tak lain dari penerjemahan terhadap hikmah ajaran sufistik tadi. Dalam khazanah sastra Indonesia, sampai kini pun idiom-idiom yang dimainkan Danarto masih sangat orisinal dan khas Danarto.

"Cuma setelah tua saya mulai kehabisan stamina," ujar dia jujur.

Danarto kini memang tidak sefenomenal di masa awal kehadirannya tahun 1960-an. Tetapi, ia boleh dicatat sebagai salah satu tonggak perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, selain cerpenis-cerpenis lain seperti seperti Iwan Simatupang, Putu Wijaya, dan Budi Darma. Semuanya berpusar pada pencarian eksistensi manusia sebagai makhluk Tuhan. Bedanya, Danarto memilih penyatuan diri dengan Tuhan Tuhan sebagai titik paling sublim dalam pencarian sufisme.


Baca juga: Biografi Lengkap Sitor Situmorang
Baca juga: Biografi Lengkap Chairil Anwar
Baca juga: Biografi Lengkap HB Jassin

Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa

Puisi Sitor Situmorang Tertib Bunyi Tertib Rupa

Sitor - Apa yang paling mudah diingat dari puisi-puisi penyair Sitor Situmorang bukanlah isi filsafatnya, melainkan tertib bunyi dan tertib rupa. Ciri ini membebaskan Sitor dari lingkaran pengaruh pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar.

"Bagi saya yang paling terkenang dari puisi Sitor terutama pada periode awal, bukanlah isi filsafatnya, misalnya, tentang keisengan atau keterasingan. Akan tetapi, justru pada tertib bunyi dan tertib rupa," kata sastrawan Nirwan Dewanto dalam diskusi "Menimbang Sitor Situmorang 1948-2001", Rabut (5/6) malam, di Jakarta. Selain Sitor, dalam diskusi yang terkesan tak formal itu hadir pula sastrawan Ramadhan KH serta para seniman lain.

Puisi-puisi Situmorang, menurut Nirwan, gampang diingat karena seakan-akan dia bertimpalan dengan keseimbangan yang hidup dalam tubuh biologis kita.

Susunan kata dan frase Situmorang segera meninggalkan gema di hati dan kepala, bukan lantaran rancangan intelektualnya atau ambisi pembaharuannya, melainkan karena kedekatannya kepada bunyi alam atau nyanyian anak.

"Namun penggunaan bentuk puisi lama seperti pantun dan soneta, tidaklah terutama disebabkan oleh hasrat mengikatkan diri kepada masa lampau atau tradisi. Tertib pola bunyi dan rupa itu untuk menapis, juga menundukkan derau dan gebalau pengalaman modern," kata Nirwan.

Puisi bebas

Angkatan 45, di mana Situmorang berada di dalamnya, sangat menggandrungi puisi bebas. Sitor malah seperti bersikap sedang berada pada kutub yang berbeda.

Akan tetapi, menurut Nirwan, Situmorang tidak menghindari bentuk puisi bebas. Ia hanya menyadarinya sebagai sesuatu yang dilebih-lebihkan, mubazir, yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya.

"Puisi Sitor hanyalah bentuk yang lebih lentur dan cair dari pantun dan soneta, meski jauh di kemudian hari setelah tahun 1960-an ia berpuisi secara prosais seraya terengah-engah mengejar musik dan bunyi," ujar Nirwan.

Di luar soal itu, puisi-puisi Situmorang, tambah Nirwan Dewanto, juga mendedahkan rupa: alam, kota, arsitektur, perempuan dan alam benda.

"Semuanya bukanlah pemandangan itu sendiri, tetapi kesan atas pemandangan, bukan realisme, tetapi impresionisme, di mana penyair layaknya pelukis membuang detail untuk menyelamatkan pandangan subyektifnya dari dunia objektif.


Baca juga: Biografi Sitor Situmorang

Djoko Pekik Go International

Djoko Pekik Go International

Djoko Pekik - Roda kehidupan menggelinding di cakrawala. Matahari menempa waktu, manusia terkulai di bawahnya. Dan Djoko Pekik bangkit dari sisa-sisa sejarah. Setelah tujuh tahun di penjara dan 15 tahun sebagai tukang jahit untuk menghidupi delapan orang anaknya, lahirlah ia sebagai pelukis.

Karyanya, Indonesia 1998 Berburu Celeng, menjadi pembicaraan ramai. Bahkan, lukisan itu sudah laku seharga satu miliar rupiah. Dari segi finansial, ini adalah suatu penghargaan sejajar dengan Raden Saleh dan Hendra.

Dalam pameran tunggal ini, ia hanya memamerkan tiga lukisannya yang besar-besar. Lukisan di atas berukuran 275 cm x 450 cm (1998). Dua yang lain adalah Susu Raja Celeng, 150 cm x 180 cm (1996), dan Tanpa Bunga dan Telegram Duka, 425 cm x 240 cm (1999).

Ketiga lukisan itu bercerita tentang tewasnya celeng, si babi hutan. Babi liar itu selalu diburu orang. Di samping merusak sawah, kebun, dan pekarangan, celeng dikenal sebagai binatang yang sangat rakus. Ia memakan apa saja.

Metafora rezim Orde Baru

Keluarga yang diserang celeng bisa kelaparan. Dengan demikian, ia sangat berbahaya. Di sejumlah provinsi bahkan ada tradisi berburu celeng. Pemburu beramai-ramai naik kuda dan melepas anjing-anjing pemburu untuk mengendus tempat persembunyian celeng.

Jika mereka menemukannya, secara beramai-ramai celeng itu dibantai. Di Sumatra Barat, misalnya, daging celeng itu menjadi makanan anjing yang menangkapnya. Daging celeng haram hukumnya dimakan manusia, seperti difirmankan Allah.

Lukisan celeng Djoko Pekik adalah metafora yahud bagi rezim Soeharto yang rakus akan kekayaan rakyat. Bahkan, orang awam mampu membaca perlambang itu dengan gampang--mungkin karena orang awam juga dibikin ludes harta miliknya oleh rezim itu.

Nah, kekuatan lukisan-lukisan Djoko Pekik adalah dapat dinikmati dengan mudah. Realis, dengan tema sederhana tentang kehidupan rakyat sehari-hari--tukang becak, embok-embok bakul, pemain teater tradisi, petani, pengamen, dan segala sesuatu yang kelihatannya remeh-temeh--karya-karyanya disanjung oleh kurator dari Amerika Serikat.

Mereka memilihnya untuk diikutsertakan dalam KIAS (1989). Sejumlah seniman menentangnya, ketika itu, karena Pekik anggota Sanggar Bumi Tarung di bawah Lembaga Kebudayaan Lekra (Lekra). Djoko Pekik dibela Mochta Kusumaatmadja, Menteri Luar Negeri saat itu, bahwa karya-karyanya tak membawa ideologi yang terlarang itu.

Rakyat adalah akar

Pameran tunggalnya ini kelihatan merupakan homage to Djoko Pekik. Tak tanggung-tanggung, Goenawan Mohamad memberikan pidato kebudayaannya yang menyentuh.

Baik Hitler maupun Mao Zhe-dong mengujarkan--begitu Goenawan menulis--bahwa kesenian harus ditujukan kepada "Rakyat" (dengan "R"), dan untuk itu beberapa syarat tertentu harus diikuti.

Djoko Pekik, sebaliknya, tidak mengikuti formula apa pun, dan "rakyat" dalam karyanya lebih merupakan sumber, atau akar, tempat lukisan-lukisan itu tumbuh, bermain, mengorak, menyentuh.

Satu di antara tiga cendekiawan--Amien Rais dan Abdurrahman Wahid--Goenawan Mohamad terlalu cerdas untuk tidak dimintai tolong memimpin bangsa ini, meski hanya untuk satu periode, misalnya.

Sayang sekali, situasi yang menyenangkan itu diinterupsi Rendra yang menulis pengantar pameran Nurinwa di Taman Ismail Marzuki. Penyair besar itu menghargai pameran tunggal Nur, yang penting untuk menyerang dominasi selera akademis yang konservatif terhadap keresmian estetika Barat.

Untuk para pelukis yang ngebet go international, Rendra menulis, "Seperti lonte lalu melupakan pentingnya go into self. Biarlah orang-orang memperdebatkan estetika lukisan-lukisanmu yang tidak menyalurkan kaidah formal dari germo-germo festival internasional."

Djoko Pekik, atau Arahmaiani, Harsono, Heri Dono, Eddy Hara, Herry Dim, Nindityo, Mulyono, Dede, Dadang, Lucia, Wara, Dolo, Astari, Ivan, Yuswanto, Ristyo, Galam, Dipo, Tisna, Suwage, Semsar, Krisna, Melodia, Amrus, Lian, dan masih banyak lagi, tidak menawar-nawarkan diri.

Sungguh, menyusuri cakrawala merupakan kebutuhan pengembaraan, seperti Rendra yang meramaikan baca puisi di Eropa. (Danarto/Koran Tempo, 21/12/1999)

Pameran Retrospektif Popo Iskandar

Pameran Retrospektif Popo Iskandar

Popo Iskandar - Tidak sembarang seniman bisa mengarungi waktu yang cukup panjang. Perjalanan seorang Popo Iskandar dalam melampaui kurun waktu yang cukup lama merupakan sebuah proses perjuangan dan pergulatan kreatif dalam mewujudkan suatu gagasan yang dilakukannya tanpa henti selama 55 tahun. Di mana setiap karyanya selalu diperhitungkan oleh para penikmat dan pengamat seni.

Dalam waktu dekat ini rencananya pelukis yang lahir di Garut 17 Desember 1927 lalu itu akan menggelar pameran yang diberi nama Pameran Restrospektif, sebuah pameran yang diyakini oleh para pengamat seni yang merupakan perjalanan panjangnya selama 55 tahun berkarya sebagai seorang seniman.

Bagi Popo sendiri sebenarnya pameran ini merupakan ajang introspektif terhadap karya-karyanya sekaligus sebagai media pertanggungjawabannya selama ini kepada masyarakat luas.
Baca juga: Biografi HB Jassin
Pameran yang rencananya akan digelar di Galeri Nasional Indonesia Jakarta dari tanggal 4-15 Februari 1999 ini merupakan potret dirinya yang paling lengkap dibandingkan dengan pameran-pameran yang pernah digelar selama ini. Karena dalam pameran inilah tergambarkan upaya pencarian, penemuan, kegagalan dan keberhasilan yang pernah dirasakannya selama dia berkiprah menjadi seorang perupa.

Sebagai seorang seniman yang dianggap senior saat ini, pameran kali ini seakan menjadi sesuatu yang esensial dari perjalanannya selama 55 tahun menggeluti seni. Popo tidak hanya dikenal sebagai seorang ekspresionis dalam setiap karyanya, tetapi dia juga seakan menceritakan kegelisahannya dalam pencarian indentitas seninya selama ini.

Totalitas dalam penciptaan seni

Bagi Popo, penciptaan seni merupakan suatu kesadaran, di mana suatu aktivitas yang dilakukannya merupakan perkembangan dari akumulasi upaya fisik maupun spiritual yang dilakukannya. Sehingga banyak orang menilai karya Popo Iskandar merupakan totalitas dari keseluruhan pengalaman yang diperolehnya dari lingkungan, bacaan, renungan, dan sikap hidup yang dijalaninya.

Lukisan-lukisan yang dibuatnya merupakan suatu proses perkembangan yang tidak hanya cukup menampilkan fisiknya saja, namun lebih berusaha secara berkesinambungan mengungkapkan kesan, makna dan penampilan sehingga memungkinkan terjadinya dialog dan kontemplasi.

Karya Popo Iskandar sendiri seakan menyodorkan dua fenomena sekaligus, yakni penerjemahan dari apa yang tersirat melalui bahasa visual dan pemaknaan pikiran dari apa yang tersurat di balik perwujudannya.
Baca juga: Biografi Chairil Anwar
Penyesuaian antara kedua unsur tersebut menuntut kemantapan dan kemapanan, sehingga menyebabkan karya seni merupakan kelengkapan yang utuh dan menyeluruh dan jati diri seorang seniman.

Kalau kita melihat perjalanan Popo Iskandar yang belajar melukis sejak tahun 1943 di bawah bimbingan Angkama, Barli, dan Hendra Gunawan menjadikan perjalanan panjang kreativitas Popo memberikan satu dasar keyakinan bahwa jati diri merupakan ungkapan kepribadian yang membedakan setiap watak manusia.

Tak mengherankan ketika bergabung di Keimin Bunka Shidosho Bandung, karya Popo langsung terpilih untuk pameran keliling bersama pelukis-pelukis senior seperti Affandi, Sujoyono, Basuki Abdullah, dan Hendra Gunawan.

Seniman jenius

Perjalanan Popo sebagai seniman Indonesia sekaligus seakan menjadi penting karena dalam perkembangan seni modern di Indonesia Popo tidak hanya dikenal sebagai pelukis dan perupa saja. Dia juga dikenal sebagai kritikus seni, esais, dan pendidik.

Meskipun pada akhirnya banyak orang menilai bahwa Popo lebih dikenal sebagai pelukis obyek kucing, ayam jago, macan. Entah mengapa dia tertarik dengan obyek hewan-hewan tersebut sehingga membuatnya terobsesi pada binatang tersebut.

Dari kesan dan kenangan yang dituliskannya, Popo mengaku tertarik melukis obyek binatang ini sejak tahun 1963. Ketika itu pertama kali dia melukis seekor kucing hitam dengan mata hijau menyala menembus kegelapan. Dan sejak itulah tema itu tidak pernah lepas dalam setiap obyek lukisannya.
Baca juga: Lekra vs Manikebu
Tak mengherankan jika seorang pengamat sekelas Umar Kayam mengomentari kejeniusan Popo itu sebagai seorang pelukis yang justru tidak tertarik dengan tema-tema besar.

Seni lukis Popo yang lebih menemukan hakikat susunan rupa ketika ia melukis kucing dan macan merupakan suatu perwujudan dan representasi dari elemen rupa (garis, warna serta ruang ilusif) dan itulah yang menjadi kelebihan Popo dibanding pelukis-pelukis seangkatannya.

Terlepas dari itu semua, pameran Restrospektif kali ini diharapkan merupakan kajian pemahaman kita yang terlalu sederhana dalam melihat seni rupa. Dengan begitu, diharapkan setiap penikmat akan lebih bersifat abstrak dan semu dalam menilai sebuah karya seorang Popo Iskandar, semoga. (Republika, 3/2/1999)

Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar

Pengaruh Kota Jakarta pada Puisi Chairil Anwar

Pengaruh Jakarta - Bila menyebut Chairil Anwar, selalu terbayang puisi-puisinya yang sangat populer, seperti Kerawang-Bekasi, Aku, Diponegoro, Senja di Pelabuhan Kecil, dan Persetujuan dengan Bung Karno.

Kumpulan puisinya seperti Tiga Menguak Takdir dan Deru Campur Debu telah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan diterbitkan penerbit luar negeri.

Puisi ciptaan si Binatang Jalang itu masih membekas di sanubari masyarakat. Namun kariernya sebagai penyair paling tersohor di Indonesia tidak terlepas dari gegap-gempita kota Jakarta.

Mengapa kota Jakarta? Di kota metropolitan inilah, Chairil hidup berkesenian secara total. Ia berasal dari perantauan kota Medan. Namun karena terjadi perceraian antara ayah dan ibunya, maka Chairil bersama ibunya sepakat pergi ke Jakarta.

Jakarta tak hanya menjadi tempatnya bergaul dengan para seniman, tetapi juga amat turut mempengaruhi karya-karyanya.

Pemahaman tentang karya sastra Chairil Anwar dan hubungannya dengan kota Jakarta ini dibahas oleh Goenawan Mohamad, Arief Bagus Prasetyo, dan arsitek Marco Kusumawijaya dalam diskusi bertema "Chairil Anwar dan Kota Jakarta" yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta, Kamis (26/6). Acara ini sekaligus dalam rangka ulang ke-481 Jakarta.

Perjalanan kreatif Chairil 

Menurut Arief, alam kehidupan masyarakat urban di Jakarta telah mengguratkan pengaruh intelektual dan psikologi yang signifikan dalam perjalanan kretif Chairil.

"Puisi Chairil Anwar, disadari atau tidak oleh penyairnya, telah mengusung dan mengedepankan pengalaman hidup di kota Jakarta. Boleh jadi Jakarta berada pada inti atom puitik Chairil. Adanya keterlibatan intens dengan kehidupan Jakarta membuat Chairil menulis puisi seperti yang telah ditulisnya."

Menurutnya, puisi-puisi Chairil yang hidup di Jakarta pada dekade 1940-an ternyata masih sangat relevan dengan keadaan Jakarta pada abad ke-21.

Sementara itu, Goenawan Mohamad berbicara dari sisi kota Jakarta. Ia melihat Jakarta tidak bisa putus hubungan dengan daerah yang bukan kota.

Goenawan mengutip pernyataan seorang pakar sosiologi perkotaan yang menyebutkan Jakarta tidak hanya mengalami urbanisasi, tetapi juga ruralisasi. Hiruk-pikuk Jakarta tidak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah yang datang dari desa-desa.

"Rancangan yang rasional, ketertiban yang efisien, dan kapital yang mencoba menguasai pembagian ruangan dengan perhitungan laba rugi tidak henti-hentinya berbenturan dengan arus deras dari bawah," ujar Goenawan.

Kelompok arus bawah yang diwakili masyarakat desa itu acap kali kalah, namun tetap saja mereka menyerbu Jakarta.

Aku yang merdeka

Dari pandangan Goenawan, Chairil pun mengungkapkan banyak hal yang tidak terlihat dari sekian banyak yang terlihat. "Ada sisi kelam sebuah kota, seperti halnya manusia yang juga memiliki sisi kelam. Seperti baris terakhir sajak Chairil tentang Jakarta, 'Kusalami kelam malam dan mereka dalam diriku pula'," kata Goenawan mengutip sebaris puisi Chairil.

Gong dari diskusi itu, Marco Kusumawijaya yang juga Ketua Dewan Kesenian Jakarta memaknai puisi-puisi Chairil sebagai subyek dalam serangan modernisasi kota.

Ia mencontohkan kata aku dalam puisi Chairil adalah kumpulan yang terbuang. "Artinya aku merdeka dari segalanya. Semacam kehendak meneguhkan kehadiran kepribadian yang kritis."

Kemerdekaan yang dikehendaki Chairil, kata Marco, bertujuan agar manusia dapat senantiasa membuat perhitungan dengan sekelilingnya. Dalam hal ini yang dimaksudnya ialah kota Jakarta. (Eri Anugerah/Kompas, 29/6/2008)


Jika Anda ingin membaca biografi Chairil Anwar yang paling lengkap, bisa mengunjungi halaman ini. Anda juga bisa membaca artikel yang ditulis Asrul Sani tentang pembelannya terhadap puisi Chairil yang banyak disangka orang plagiat. Lalu, ada juga sebuah esai yang berjudul Tiga Muka Satu Pokok yang ditulis oleh Chairil.

Mengembalikan TIM Jadi Rumah Seniman

Mengembalikan TIM Jadi Rumah Seniman

TIM rumah seniman - Sepuluh November 1968, Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), resmi dibuka. Orde Baru waktu itu masih baru. Rasa pahit terhadap orde sebelumnya di banyak para seniman masih terasa keras, sehingga lembaran baru itu dikuasai oleh niat untuk tidak mengulangi apa yang buruk di masa lalu.

Apa yang buruk itu adalah pensubordinasian kegiatan kesenian di bawah pertimbangan kepentingan politik. Demikianlah kesimpulan para seniman itu. Dengan kata lain, hilangnya otonomi kesenian sebagai suatu kegiatan yang punya kodrat dan dinamika sendiri.

Biografi TIM di atas, dipaparkan salah satu seorang penggerak TIM waktu itu, Goenawan Mohamad (GM), seorang penyair dan esais terkemuka. Dari paparan GM bisa ditarik beberapa variabel untuk mempertegas kembali dan mempertajam elan vital kesenian para seniman, yang seharusnya mampu memberikan kontribusi positif bagi keberlangsungan hidup dan memperpanjang nyawa gejolak kehidupan kesenian agar tetap terjaga kualitas peristiwa kesenian.

Dalam situasi seperti itulah, saat ini beberapa pekerja kesenian yang tinggal di sekitar Jakarta, merumuskan aturan main yang harus diberlakukkan kepada pengurus TIM, khususnya Dewak Kesenian Jakarta.

Variabel pertama, para seniman pada waktu itu, ingin menolak pensubordinasian kegiatan kesenian di bawah pertimbangan politik. Penolakan seniman terhadap intervensi politik memiliki sifat abadi, ia tidak larut dalam arus waktu yang sering kali dibingkai dengan terma Orde Lama dan Orde Baru.

Kapan pun aktivitas kesenian berlangsung, intervensi politik harus berada di luar kawah kesenian. Tetapi, di satu sisi, sebuah misi kesenian yang berupa gagasan dan peristiwa-peristiwa kesenian, tidak diharamkan membaw aura politik sebagai peluru untuk mempertajam sasaran bidiknya.

Pada traktat inilah, seharusnya para seniman juga melakukan penolakan yang sama, terhadap pensubordinasian berbagai kepentingan, yang tidak memiliki signifikansinya dengan proses kerja kreatif kesenimanan.

Penolakan berbagai kepentingan di luar aura kreatif, sebagai satu cara menjaga independensi si seniman dari pengaruh uang, jabatan, dan kekuasaan.

Bagaimana mungkin kita merayakan untuk menolak intervensi politik dari para birokrat, sementara kita--para pelaku kesenian--menerima pesanan atau proyek dari para pemegang kekuasaan, sekadar memperpanjang asap dapur.

Selalu saja argumen yang diusung dari para seniman yang berada di ketiak pejabat dan penguasa, bahwa pesanan atau proyek diskusi tidak signifikan dengan intervensi politik yang sedang mereka perjuangkan.

Dari sini, variabel kedua berlaku, di mana TIM yang di dalamnya bersemayam DKJ, berada dalam posisi ambivalen.

Di satu sisi mereka menakbirkan bahwa otonomi kesenian sebagai suatu kegiatan yang memiliki kodrat dan dinamika sendiri dan di luar kawah candradimuka politik. Sementara mereka para pengelola DKJ, harus menghidupi setiap gagasan kesenian dari kantong-kantong birokrasi.

Memang di berbagai belahan dunia, aparatur negara menjadi penyangga aktivitas kesenian dengan berbagai syarat untuk tidak mencampuri urusan kesenian. Dan, ini berbanding sejajar dengan pernyataan Ali Sadikin ketika meresmikan TIM, bahwa "politik tidak boleh intervensi ke dalam pusat kesenian seperti waktu pra-Gestapu dulu".

Carut-marut yang menyelimuti 'hutan belantara' TIM dan DKJ saat ini memunculkan para pekerja kesenian yang bersemayam di Jakarta, membentuk Forum Seniman Jakarta (FSJ), sebagai bentuk reaksi berbagai ketimpangan program kesenian yang bergulir di sekitar TIM.

Ketokohan sumber kemandekan

FSJ yang diprakarsai Leon Agusta, Sri Warso Wahono, Arsono, Syahnagra Ismail, dan Tommy F Awuy ini, berniat mengembalikan Pusat Kesenian Jakarta-TIM, sebagai rumah tempat para seniman berkiprah, yang sekarang ini dikuasai secara otoriter oleh Yayasan Kesenian Jakarta.

Seperti diketahui bahwa Yayasan Kesenian Jakarta mengabaikan makna historis maupun tujuan hakiki dari pendirian DKJ dan Pusat Kesenian Jakarta.

Bukankah kelahiran DKJ pada mulanya untuk meletakkan kembali kesenian sebagai sebuah proses kreatif yang independen. Maka melihat krisis yang melanda DKJ, tidak seluruhnya benar pikiran yang pernah digulirkan Sutardji Calzoum Bachri, bahwa masalah utamanya sehubungan dengan kemelut DKJ bukanlah anggotanya muda atau tua usia, tetapi terutama ketokohannya.

Ketokohan pada pengelola DKJ tempo dulu seperti Ramadhan KH, Ajip Rosidi, Taufiq Ismail, Wahyu Sihombing, dan Arifin C Noer, telah memberikan dampak tertentu bila DKJ melakukan lobi dengan Gubernur DKJ Jakarta, para pejabat lainnya ataupun para sponsor kesenian dan maecenas.

Dalam lajur pikiran seperti ini, saya sepakat dengan apa yang pernah disodorkan Nirwan Dewanto. Bahwa ketokohan hanya menggelincirkan kita ke dalam kelisanan. Kelisanan: omong kosong, gosip, bukan diskusi. Juga kemalasan, mungkin kelumpuhan menghadapi masalah.

Terlalu mudah membekukan tokoh sebagai pelopor, pembaharu, empu, dan pahlawan--itulah kaprah lekas mengambil kesimpulan tanpa berkeringat darah mengerjakan riset dan diskusi. Khazanah kesenian kita masih dilumuri kesisanan: kaum pengamat lekas terpaku ingat bingar, kemayu, pandai menjajakan diri. (Edy A Effendi/Media Indonesia, 7 Juli 2002)


Baca juga: Hakikat Cerita Pendek 
Baca juga: Pedoman Mengarang Cerpen 
Baca juga: Syarat Menjadi Penyunting Naskah

Umar Kayam Tinggalkan Cita-Cita Demokrasi

Umar Kayam Tinggalkan Cita-Cita Demokrasi

Seratus hari meninggalnya budayawan Umar Kayam diperingati di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin (8/7) malam. Umar Kayam adalah salah satu budayawan Indonesia yang berpikiran cemerlang dan punya visi yang jauh ke depan.

Tidak tepat seratus hari, tapi pada 117 hari meninggalnya, keluarga almarhum dan Dewan Kesenian Jakarta memperingati kepergian budayawan itu. Dua penyair yang cukup dekat dengannya, yaitu WS Rendra dan Goenawan Mohamad tampil sebagai pembicara.

Selain itu, keluarga almarhum juga ikut mengisi acara dengan menyampaikan kisah-kisah Umar Kayam yang tidak banyak diketahui umum. Untuk menghormati budayawan yang pernah main sebagai Bung Karno dalam film Pengkhianatan G-30-S/PKI itu, beberapa karyanya berupa cerita untuk anak-anak dibacakan malam itu.

Nurani Pertiwi, cucu almarhum, dan Mitrardi Sangkoyo, keponakan almarhum, membacakan cerita untuk anak-anak yang digubah almarhum, yang terkumpul dalam cerita Toto dan Toni.

Penyair Taufiq Ismail, malam itu tampil dengan memacakan doa untuk Umar Kayam. Pembacaan doa itu mengawali kisah-kisah yang disampaikan oleh keluarga almarhum, Goenawan Mohamad, dan WS Rendra.

Usai Taufiq membacakan doa, Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta Agus R Sarjono menyampaikan sambutan. Ia mengatakan budayawan Mas Kayam, panggilan untuk Umar Kayam, tidak bisa dilihat dari satu kategori. "Sebab Mas Kayam terlibat dalam banyak dimensi di dalam kebudayaan ini".

Salah satu wakil keluarga tampil ke depan dan menyampaikan beberapa kisah menarik tentang Mas Kayam. Ia menuturkan, sebagai bapak, kakek, paman, sahabat, Mas Kayam adalah orang yang bersahaja, terbuka, kreatif, dan memiliki banyak kemampuan.

Sebagai seniman, putra dari Sastro Sukotjo--guru di Solo yang aktif berkesenian dan kepanduan--Mas Kayam menekuni banyak bidang. Hal yang mungkin kurang diketahui dari penulis cerpen Seribu Kunang-Kunang di Manhattan ini adalah bahwa ia sangat dekat dengan anak-anak. Karena itu, ia banyak menulis cerita untuk anak-anak. Salah satu ceritanya, yaitu cerita bergambar Toto dan Toni diterbitkan Pustaka Jaya pada 1975.

Sementara itu, Goenawan Mohamad yang tampil tanpa makalah menuturkan beberapa kisah menarik tentang Kayam. Salah satunya adalah Jabatan Dirjen Radio, Televisi, dan Film yang dijabat Mas Kayam. Goenawan mendengar bahwa ada seorang dirjen yang gemar menulis cerpen dan ke mana-mana suka dibonceng oleh cerpenis Ras Siregar dengan skuter. Cara seperti itu bukan saja memperlihatkan bahwa seorang dirjen sangat merakyat, tapi juga sangat intelek.

Berpikir merdeka

Ketika sebuah kekuasaan otoriter hendak membangun Indonesia, ia cenderung membungkam seniman yang membawa suara kemerdekaan. Umar Kayam bukan saja menorehkan arti kemerdekaan dalam karyanya saja. Tapi, dalam kehidupannya pun ia merupakan pribadi yang merdeka. Menurut Goenawan, salah satu ciri kemerdekaan adalah humor. "Kita tahu, seperti diceritakan keluarganya, humor merupakan bagian hidupnya yang penting," tuturnya.

Humor, tambah Goenawan, bisa membuat seseorang mengambil jarak, membuang waktu, dan tidak bertujuan apa-apa. Juga tidak menghitung. Ini bukan saja karena memang Mas Kayam termasuk orang yang meyakini bahwa hidup tidak hanya bisa dijelaskan dengan angka-angka.

Orde Baru bukan hanya dibangun oleh Soeharto. Di tengah suasana Orde Baru yang otoriter, Umar Kayam berjalan dengan suasana kemerdekaan yang sesungguhnya. Salah satu komitmen Umar Kayam di tengah perjalanan Orde Baru adalah mencita-citakan kehidupan demokrasi. Hal ini juga yang dilakukan seniman-seniman lain seperti Taufiq Ismail, Arief Budiman, Rendra, dan lain-lain. Itulah yang menyebabkan Kayam begitu cepat dicopot dari jabatan dirjen.

Sementara itu, WS Rendra menuturkan, ia harus mengakui telah menerima banyak pengaruh dari cara berpikir merdeka yang digagas Umar Kayam.

"Dia yang mengajarkan saya tentang keragaman hidup, menghargai kemanusiaan sekalipun kepada musuh," tutur Rendra.

Umar Kayamlah yang membuka mata Rendra dengan perbedaan. (Media Indonesia, 10 Juli 2002)

Baca juga: Biografi HB Jassin 
Baca juga: Biografi Haji Hasan Mustapa
Baca jugaBiografi Chairil Anwar

Biografi HB Jassin

HB Jassin

Biografi - HB Jassin dikenal sebagai pengecam kesusastraan Indonesia yang jujur dan rasanya tidak hanya cukup dengan membaca hasil-hasil kritik dan esainya saja.

Jika hendak mengenalnya lebih jauh sebagai suatu studi, perlulah ia digali dan diselidiki dalam segala segi kehidupannya. Pasalnya, Jassin merupakan manusia yang hidup dari saat ke saat, tidak mau dikekang oleh tiap budi dan benda.

Pembawaan apakah yang menurut pada pribadinya hingga dia menjadi seorang yang dikenal akan disiplin diri dalam hidupnya?

Mungkin pula orang sudah seringkali menulis tentang pendapat-pendapatnya, hasil-hasil pekerjaannya di lapangan kesusastraan, namun belum pernah orang dapat mengetahui tentang kehidupan pribadinya.

Sebenarnya nama kecil HB Jassin adalah Hamzah, tetapi sewaktu ia masih bersekolah di MULO, oleh gurunya diubah panggilan jadi Hans.

Kakek Jassin adalah sekretaris raja di daerahnya dan pekerjaan tulis menulis kakeknya itu rupanya telah menurun pada diri Jassin, hingga menjadikan dirinya seorang yang rajin menyimpan surat-surat.

Ternyata Jassin kini dapat memiliki dokumentasi kesusastraan Indonesia yang terlengkap di Indonesia.

Masa kecil Jassin

Bentuk Badan Jassin gemuk, tinggi 1,58 meter, beratnya 68 kilogram, kulitnya kuning langsat, berkaca mata, rambutnya kelihatan jarang tersisir dan pakaiannya selalu sederhana.

Jassin dilahirkan di Gorontalo pada tanggal 31 Juli 1917.

Di antara ketujuh saudaranya, hanya tiga orang yang masih hidup. Ketika di lahir, ayahnya sedang di Balikpapan. Hingga berumur 9 tahun Jassin belum disekolahkan.

Dalam suai semuda itu seringkali Jassin sudah suka bermenung-menung sendiri, suka memperhatikan sifat-sifat hewan yang kemudian dibandingkan dengan sifat-sifat manusia.

HB Jassin semasa kecil

Apa yang dilihatnya atau apa yang dipikirkan dalam permenungannya sering pula menimbulkan pendapat-pendapat yang kritis terhadap dirinya.

Pembawaan dalam mencari pemikiran serta pemisahan segala sesuatu yang disadari dan tak disadarinya dalam dirinya telah lama terjadi dalam usia semuda itu.

Kepindahan keluarganya dari Gorontalo ke Balikpapan pada tahun 1924 disebabkan karena ayahnya bekerja di BPM.

Pada tahun 1927, setelah Jassin berusia 9 tahun, HIS di Balikpapan dibuka. Dan pada waktu itu pula ia baru mengenal bangku sekolah.

Kenangan yang mengharukan

Selama beberapa tahun saja, banyak didapatnya kenang-kenangan hidup yang mengharukan.

Pada suatu hari kebetulan dia sedang di rumah tiba-tiba terdengar suara mengetuk pintu, tapi ketika pintu dibuka, ternyata tidak ada orang.

Tidak berapa lama antaranya, ayahnya datang dari tempat kerjanya dan aneh baginya ayahnya terus masuk ke dalam kamar dan menangis. Setelah ditanya oleh ibu Jassin mengapa ia demikian, barulah diperlihatkannya telegram yang baru diterimanya, yang berisik kabar bahwa orang tua ayahnya (kakek Jassin) telah meninggal dunia.

Apa pula hubungan ketukan pintu dan peristiwa tersebut, tetapi bagi Jassin yang menyaksikan sendiri akan besar artinya, yang kemudia ia tak jemu-jemu mencari penjelasannya yang mungkin pula dianggap orang lain hanya takhayul.

Pernah pula Jassin melihat adiknya sendiri menderita sakit keras, hingga mendekati mautnya. Pengobatan telah diusahakan dengan berbagai cara, tetapi tidak juga berhasil.

Akhirnya, oleh seorang dukun istimewa diminta agar agar anak itu diberi hidangan yang ditempatkan di sebuah perahu-perahuan yang dibikin dari batang pisang.

Anak kecil yang sakit keras itu diletakkan di samping sajian, lalu dibacakan doa-doa baginya agar segala gangguan yang bersarang di dalam tubuh anak itu dipindahkan oleh setan-setan ke dalam perahu-perahuan yang berisi sajian itu.

Kemudian perahu itu dihanyutkan ke sungai. Apa yang terjadi keesokan harinya? Anak itu sembuh dan dapat bermain-main kembali seperti anak yang sehat.

Pengalaman adiknya yang disaksikan Jassin itu, sampai sekarang tidak bisa dilupakannya. Apakah ilmu gaib itu hanya terdapat di lingkungan orang-orang yang mempercayainya, dan apakah hanya terbatas di daerahnya saja?

Dan kekuatan gaib apakah yang selalu ditebus dengan sajian itu? Demikianlah Jassin berpikir dan terus berpikir karena peristiwa itu.

Pengalaman-pengalaman yang mengharukan itu dilunakkan pula oleh kenangan-kenangan semasa kecil Jassin, ketika dia seringkali bermain-main dengan seorang gadis yang sebaya dengannya.

Sukacita yang telah mulai bersemi di dalam usia yang masih muda itu, telah mempermainkan kedukaannya yang mengalun di dalam cinta untuk pertama kalinya.
Baca juga: Kontroversi Puisi Pamplet Rendra
Apakah nama perasaan itu, masih asing bagi anak-anak yang baru berusia 12 tahun. Pada kenyataannya Jassin terdiam saja jika berjumpa dengna gadis pujaan hatinya itu.

Namun Jassin selalu mengingat-ingatnya jika berjauhan atau tidak berjumpa. Dan nama gadis Balikpapan yang pernah menambat hati anak muda itu, kini telah dijelmakan kepada anaknya yang nomor dua.

Pengalaman-pengalaman semasa kecilnya adalah unsur-unsur yang perlu dipupuk olehnya, karena dapat dijadikan gejala-gejala berpikir dan rasa di kemudian hari.

Oleh karena itu pula dengan mudah sekali Jassin dapat merasakan perkembangan-perkembangan persoalan yang didukung dalam pergaulan hidupnya dan yang diperkuat oleh hasil-hasil bacaannya.

Di HIS telah tampak pula kepandaiannya membaca secara baik. Tapi karena ayahnya pindah kembali ke Gorontalo, kemudia Jassin dapat melanjutkan sekolahnya ke MULO di Tondanau.

Pindah ke Sumatera

Baru enam bulan ia di Minahasa, ayahnya dipindahkan ke Pangkalan Brandan. Bagi Jassin sudah menjadi idam-idaman untuk menambah pengetahuan di Sumatera.

Semasih di Gorontalo, Jassin pernah menyaksikan ibunya sedang menderita sakit urat saraf.

Penyakit ibunya yang menakutkan dengan gejala-gejala seperti orang yang hendak menggigit atau mengamuk terhadap siapa yang dilihatnya sangat mengkhawatirkan dan membuat sedih hati Jassin.

Dalam hatinya, Jassin mendoakan agar jangan lebih lama lagi penderitaan ibunya itu atau lebih baik lekas meninggal saja.

Ibunya yang menderita di dalam kengerian itu pada esok harinya di pagi buta meninggal dunia.

Tiadalah seornag juga yang mengetahui suara hati Jassin ketika itu. Tapi sinar apakah yang tiba-tiba datang dalam pikirannya secara radikal dengan berpendapat bahwa dari penyakit ibunya yang makin mengerikan dan menjadi siksaan itu tidaklah lebih baik ditamatkan saja riwayat yang tersiksa itu?

Bukankah harapan ini menjadi satu-satunya pendirian yang benar dalam keadaan waktu itu, meski Jassin hanya sekadar mendoakan saja, yang ketika itu belum lagi berusia 15 tahun?

Membatalkan pernikahan

Sejak di HBS Medan, Jassin mulai memasuki lapangan perkumpulan, Inheemse Jeugd Organisatie, dan perhatiannya telah mengarah kepada kesusaastraan.

Di masa itulah dia mulai mengikuti krangan-karangan tentang perkembangan kesusastraan, yang diselenggarakan oleh Matu Mono di dalam harian Pewarta Deli.

Dari karangan-karangan Matu Mona dia juga memperoleh dorongan untuk lebih jauh melihat pertumbuhan kesusastraan umumnya.

Arsiti dan HB Jassin


Di dalam LJO, yang ketika itu dipimpin oleh Bahrum Rangkuti, pernah pula hati Jassin tertambat kepada seorang gadis yang aktif di dalam organisasi tersebut.

Setelah tamat dari HBS (1939), Jassin lalu meninggalkan Medan untuk pulang ke kampungnya dan bekerja di kantor Ass Resident Gorontalo dan masalah finansial akan ditanggung oleh orang kaya itu.

Setelah kedua belah pihak setuju, berangkatlah Jassin ke Jakarta.

Namun sesampainya di Makassar, dikirimnya surat kepada bakal mertuanya tersebut, agar membatalkan saja apa yang telah direncanakannya itu.

Betapa malu dan marahnya gadis yang telah mengimpikan bakal menjadi isterinya itu, namun Jassin hanya mendiamkan saja dan demikianlah ia menetap di Jakarta.

Kemudian gadis yang pernah menantikannya dulu kini telah bersuamikan salah seorang keluarganya dan sekarang telah mempunyai 5 orang anak. Kabarnya ia tidak berbahagia dalam rumah tangganya.

Gadis dari Medan

Setelah Jassin sampai di Jakarta dilanjutkannyalah hubungan surat menyurat dengan gadis Medan yang pernah menambat hatinya dahulu.

Alhasil surat-menyurat yang intens tersebut semakin mengeratkan ikatan batin di antara mereka dan pada suatu ketika dengan tidak disangka-sangka gadis itu telah datang sendiri untuk menemui Jassin di Jakarta.

Akhirnya, sepakatlah untuk menentukan hari perkawinan mereka dan segera pulang ke kampungnya. Tapi apa daya, kedatangan Jepang pada 1942 telah memutuskan segala perhubungan darat, laut, dan hubungan persuratan.

Hanya dengan sikap berdiam diri juga Jassin menghadapi hal-hal mengapa pula kedatangan Jepangan menghalangi hingga memutuskan hubungan orang yang di Jakarta dan yang di Medan?

Ketiadaan perhubungan ini bagi Jassin tidaklah berarti putusnya ikatan batin, bahkan impiannya dijadikannyalah sebagai suatu pengalaman jiwa yang perlu ditempa oleh kerinduan dan kecemasan.
Baca juga wawancara Jassin dengan wartawan Malaysia: Hasratnya Museum Sastra yang Lengkap
Hingga sering kali Jassin bersunyi-sunyi diri di alun impian, dan yang nampak hanya gadis di Medan jugalah yang ada dalam ingatannya.

Pernah pula Jassin sedang mencari kesunyian diri dengan mengendarai sepedanya tiba-tiba dia telah sampai Tanjung Priok dan melalui jalan-jalan yang dilarang oleh Ken Pei Tai.

Sesampainya di daerah jalan-jalan yang terlarang dan dengan tidak tersadarkan diri di lampun angin membisik, tiba-tiba dia dipanggil oleh penjaga di muka gedung Ken Pei Tei dan disuruhnya dia masuk serta dibawanya kepada atasan pasukan tersebut.

Dipukuli tentara Jepang

Dengan tidak banyak bicara lagi, Jassin dipukuli, dijadikan sasaran bermain Jujitsu, dan keesokan harinya baru diperbolehkan pulang.

Bangga juga Jassin akan segala pukulan dan siksaan yang telah dialaminya.

Hal itu dianggapnya sebagai suatu ujian yang sangat bermanfaat untuk mengetahui sampai di mana ketabahan jiwanya.

Dengan merasa bangga dialaminya tempaan bagi jiwanya untuk lebih mempertebal kepercayaan pada diri sendiri dalam menentang anasir-anasir penjajahan.

Di samping itu, dia pun dapat lebih menyadarkan dirinya dalam kenyataan hidup atau bahwa dalam kebangunan ini tidak boleh bermimpi.

HB Jassin dokumentator sastra Indonesia modern

Perjalanan hidupnya yang direntangkan dan pertumbuhan jiwanya yang dipupuk, tampak pula dalam surat-suratnya kepada gadis yang pernah jadi impiannya.

Sejak itulah ia telah menuliskan sejarah hidupnya di dalam buku catatan hariannya, tak seorang pun dapat mengetahui.

Tapi menurut dugaan sudah 20 tahun lebih, yakni semenjak dia masih bersekolah di Medan telah dimulai dicatatnya semua perbuatan dan kejadian yang telah dialaminya.

Segala sesuatu direnungkannya, yang menyenangkan atau menyusahkan, mengenai pengeluaran dan masuknya uang sehari-hari, dari mana didapatnya dan untuk apa dipergunakannya, dituliskannya di dalam buku hariannya, hingga menjadi suatu buku roman kehidupan pribadinya.

Menulis dengan jujur

Memang sudah sering juga orang menuliskan riwayat hidupnya sendiri, baik dari peristiwa-peristiwa yang pernah dialami atau yang pernah dipikirkan, tetapi masih belum tentu terdapat keberaniannya seperti Jassin untuk tidak membohongi dirinya atau tidak bertedeng aling-aling terhadap diri sendiri.

Pasalnya, Jassin menuliskan dengan sejujur-jujurnya segala yang terjadi pada dirinya dan apa yang telah dilakukannya sendiri.

Di samping itu, berkat dia bekerja di berbagai majalah sebagai redaktur yang berhak menolak dan menerima tiap naskah karangan yang masuk, keadaan itu dapat pula dijadikannya kesempatan terbaik untuk menambah pengetahuan dari segala segi-segi sejarah dan perkembangan kesusastraan Indonesia.

Dan dengan cara demikian pula dia dapat memiliki segala apa yang menjadi bahan untuk dokumentasinya.

PDS HB Jassin

Apa yang dimaksudkan dengan manusia dari saat ke saat tadi ialah bahwa pada saat Jassin dapat membenarkan sesuatu soal di waktu-waktu lampau, tidaklah dapat dipertahankan kebenarannya itu untuk di hari-hari sekarang.

Begitu pun mengetai buku-bukunya, pandangan-pandangan yang bersiat kritik dan esainya, atau apa yang ditulisnya pada saat-saat dulu itu, tidaklah bisa dijadikan jaminan untuk bisa berlakunya pada saat-saat sekarang.

Karena itu, pendapat-pendapatnya masih belum bisa diterima dari sudut ilmu pengetahuan, melainkan dari sudut kesosialan yang tidak bisa lepas dari kemasyarakatan. Dan memang sifat-sifat inilah yang masih tebat terdapat di kalangan bangsa kita umumnya.

Apalagi terdapat pada sifat-sifat Jassin yang tidak suka berjanji pada orang lain. Memang sukar untuk dipahami orang yagn baru kenal Jassin. Pasalnya, sifat-sifat yang unik itu dan tidak banyak bicara dan memang tidak pandai mengobrol.
Baca juga: Cerpen-Cerpen Satiris Putu Wijaya
Ketelitian dan kerajinan sifatnya di dalam bekerja, di dalam kata-kata yang diucapkan atau soal-soal yang disediki telah dapat memperkaya perasaannya di dalam menegakkan pribadinya.

Meskipun Jassin terkenal juga sebagai binatang jalang yang konsekuen, di dalam pergaulan hidupnya sehari-hari selalu ia berdasarkan perikemanusiaan juga.

Jassin pun juga telah sering kali bermain di dalam panggung sandiwara, yang banyak orang tidak menyangkanya karena sifatnya yang pendiam itu, sanggup bermain sandiwara itu adalah untuk melepaskan atau menyatakan apa yang menjadi dendam kesumat di dalam dirinya.

Pada tanggal 11 Maret 2000 Jassin berpulang ke rahmatullah. Ia adalah kritikus sastra yang berwibawa, dokumentator sastra yang tekun, dan orang yang berjasa besar pada kesusastraan modern Indonesia.