Aku mengayuh sepeda di bawah naungan pepohonan tua yang seolah menyimpan rahasia dari generasi yang tak lagi disebut dalam percakapan manusia. Sinar matahari jatuh dari sela dedaunan seperti serpihan emas yang melayang dalam udara panas. Tangan kiriku menggenggam plastik berisi Matcha, seperti seorang peziarah yang membawa persembahan sederhana. Jalan setapak itu terasa seperti halaman terakhir dari sebuah buku yang pernah kubaca saat kecil, namun kini entah bagaimana muncul kembali sebagai kenyataan.
Di sisi jalan, mobil dan motor berlalu seperti makhluk perunggu yang digerakkan oleh kehendak tak terlihat. Semuanya bergerak, tapi semuanya juga diam dalam cara yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang pernah tersesat di antara waktu dan ingatan. Ada aroma tanah kering, daun yang gugur, dan gema suara anak-anak yang tak tampak. Udara terasa begitu hidup, seakan sedang menunggu seseorang untuk menyebut namanya agar ia berubah menjadi legenda.
Dari perjalanan yang singkat dan tak berarti ini, aku belajar bahwa kehidupan tidak menunggu momen besar untuk mengingatkan manusia akan keajaiban. Hal-hal kecil yang dilupakan, yang datang tanpa upacara atau penanda penting, justru yang menyimpan kebenaran paling dalam.
