Di jalan aspal yang basah oleh bayangan masa lalu, aku mengayuh sepeda ini seperti seseorang yang tidak sedang bergerak maju, tapi kembali. Setiap denting rantai terdengar seperti napas tua dari sebuah kota yang pernah mengenal diriku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri. Angin yang datang dari depan bukan sekadar udara; ia adalah pesan yang gagal terkirim, surat tanpa alamat, bisikan dari waktu yang tidak pernah mau berkompromi dengan ingatan.
Stang ini, hitam dan sederhana, telah menjadi tongkat penunjuk arah takdir yang kadang-kadang kejam. Di ujung kiri, ada tarikan rem seperti kesempatan terakhir; di kanan, angka-angka yang menandai kecepatan, namun sesungguhnya menandai tahun-tahun yang hilang begitu saja. Aku merasa setiap ayunan roda adalah negosiasi antara diriku yang dulu dan diriku yang sekarang, seperti dua bayangan yang berebut tubuh tunggal ketika matahari mulai jatuh.
Namun di tengah keheningan ini, sesuatu yang samar terjadi: jalan panjang dan kosong mulai menyerupai halaman-halaman buku yang belum dituliskan. Sepeda ini, yang tampak biasa dan tak bernama, berubah menjadi kuda besi yang membawa kemungkinan baru. Dan tanpa kiranya aku meminta izin, tubuhku mengerti bahwa perjalanan ini bukan pelarian, tapi pulang ke diri yang sejak lama menunggu tanpa keluh, diam, setia, seperti jalan lurus yang tak pernah bertanya mau ke mana roda membawanya.
