Langit


Aku menyaksikan langit seperti lembar surat kutukan yang tak pernah selesai ditulis. Setiap hari suara sirene, berita, dan doa yang tercekat datang dari sudut negeri yang berbeda, seperti roh-roh yang tersesat saling bertabrakan di udara. Kadang aku merasa seolah bumi ini memiliki ingatan lebih tua dari para pemimpin dan lebih jujur dari mulut manusia, dan ia menuntut sesuatu yang pernah dirampas darinya. Di tengah semua itu, duka bukan lagi sesuatu yang datang, tetapi sesuatu yang tinggal, menempel pada kulit dan napas seperti kabut garam dari laut yang kehilangan arah angin.

Aku berjalan melewati hari-hari dengan perasaan bahwa waktu telah kehilangan kedamaiannya. Gunung meletus seperti dada seseorang yang tak sanggup lagi menahan rahasia, sungai meluap seperti amarah yang selama puluhan tahun dikubur dalam diam, dan tanah berguncang seakan tulang-tulangnya meronta ingin keluar dari tubuh raksasa yang kelelahan menanggung manusia. Semua laporan itu tidak hanya menjadi cerita, tetapi menjadi bagian dari kesadaranku, seperti mimpi buruk yang kembali setiap malam dalam bentuk berbeda namun dengan luka yang sama.

Di sela kekacauan itu, ada keheningan yang lebih menakutkan daripada gemuruh bencana itu sendiri. Keheningan yang membuatku merasa seakan semesta sedang mempertimbangkan apakah manusia masih layak tinggal di dalamnya. Di antara puing-puing kota, abu gunung yang menutupi atap, dan tangis orang-orang yang kehilangan nama untuk kesedihannya, aku merasakan sesuatu yang tak dapat kujelaskan: sebuah kehampaan yang tak mencari penghiburan, hanya pengakuan bahwa dunia telah bergeser dan tak akan pernah kembali menjadi seperti sebelumnya.