Di lorong yang terang ini, Iliana berdiri seperti cahaya kecil yang menunda datangnya hari. Rak-rak tinggi di sekelilingnya berdiri seperti perpustakaan misteri, menyimpan doa tanpa suara dari jutaan orang yang pernah lewat sebelum kami. Lantai putih memantulkan pijar matanya, dan dalam pantulan itu dunia seolah menyadari kehadirannya.
Di tangannya, ia memegang dua benda kecil yang bagi orang dewasa hanya sekadar camilan, namun bagi Iliana adalah dua gerbang menuju kerajaan rasa yang belum dinamai. Ia memandang sekeliling dengan keyakinan yang hanya dimiliki anak-anak, keyakinan bahwa dunia tidak hanya bisa dipahami, tetapi juga dicintai tanpa syarat dan tanpa penjelasan. Segalanya tampak diberkati oleh keberadaannya.
Aku melihat senyumnya, dan dalam senyum itu waktu melakukan sesuatu yang ajaib: ia melunak. Setiap rambut yang jatuh di dahinya, setiap langkah sandal mungilnya, setiap tawa yang hampir menjadi lagu, semuanya mengingatkanku bahwa kebahagiaan tidak pernah menjadi tujuan, melainkan momen kecil yang ditangkap di tengah perjalanan.
