Batas


Pagi itu, aku berdiri di halaman rumah sambil menatap pertemuan antara dinding abu-abu dan langit yang pucat. Garis bangunan yang tegas membuat langit tampak seperti lembar kertas biru muda yang belum ditulisi apa pun. Angin membawa aroma embun dari genteng rumah sebelah, aroma yang selalu mengingatkanku pada hari-hari awal ketika hidup terasa lebih lambat, lebih sederhana, dan lebih mudah dirayakan tanpa banyak alasan.

Di balik dinding itu, aku melihat sepotong atap rumah tetangga dengan warna merah bata yang hangat, kontras dengan awan yang menggantung lembut seperti kapas yang ragu turun sebagai hujan. Kabel-kabel listrik membentang di udara, tipis dan tenang, seolah menjadi garis-garis yang menghubungkan satu cerita kecil dengan cerita lainnya di kampung ini. Aku berdiri cukup lama, hanya untuk merasakan bahwa pemandangan sesederhana ini pun bisa membawa damai yang tak pernah kutemukan di keramaian kota.

Ketika aku menatap langit yang retak oleh garis bangunan dan kabel-kabel itu, aku menyadari bahwa keindahan tidak selalu datang dari sesuatu yang megah, ia datang dari kesediaan kita untuk berhenti sejenak dan melihat sekitar. Hidup tidak selalu menawarkan pemandangan luar biasa, namun setiap sudut kecil memiliki cara sendiri untuk mengingatkan bahwa tenang sering bisa ditemukan di tempat yang paling tidak kita duga.