Aku masih ingat malam itu, ketika lampu bohlam di teras rumah tua menyala redup, seperti kunang-kunang yang terjebak dalam botol kaca. Kami duduk bersila di lantai hijau yang dingin, penuh bekas lecet dan kenangan. Di hadapanku, anak-anak kecil tertawa dengan mata berbinar. Mereka mengejar seekor merpati yang datang entah dari mana, seolah ia tahu ada keceriaan yang menunggunya. Rumah dengan dinding toska yang terkelupas catnya menjadi saksi bahwa kebahagiaan tak pernah membutuhkan kemewahan.
Merpati itu bergerak gesit, sayapnya bergetar seperti lembaran puisi yang tak pernah selesai ditulis. Anak-anak itu, dengan langkah kecil dan nafas terpatah-patah oleh tawa, terus mengikuti burung itu tanpa pernah bosan. Ada yang memakai piyama penuh bintang, ada yang memakai baju merah, ada yang memeluk boneka seolah itu adalah sahabat yang tak boleh tertinggal. Aku memperhatikan mereka, dan ada sesuatu yang menghangatkan dada, sesuatu yang hanya muncul ketika kita menyaksikan kepolosan yang tidak tahu usia dan tidak mengenal kecemasan.
Dari permainan sederhana itu aku belajar sesuatu yang sering terabaikan ketika manusia tumbuh dewasa: kebahagiaan bukan sesuatu yang dicari, tetapi sesuatu yang disadari. Sering kali ia hadir dalam bentuk paling sunyi, paling sederhana, paling kecil. Merpati lewat, tawa menggema, dan hidup tiba-tiba menjadi lebih ringan.
