Pagi itu, matahari baru saja naik, memantulkan cahaya lembut pada bangunan putih megah yang berdiri seperti istana di belakang Iliana. Ia berjalan dengan piyama dinosaurusnya yang lucu, seolah baru melompat keluar dari mimpi dan langsung masuk ke dunia yang lebih ajaib. Topinya yang merah muda sedikit miring, dan di atasnya hinggap burung hantu kecil yang membuat pagi terasa seperti adegan dari cerita anak yang belum pernah ditulis siapa pun. Iliana tertawa kecil sambil mengangkat tangannya, wajahnya cerah seperti langit tanpa awan.
Di sekelilingnya, suasana car free day pagi mulai hidup. Ada ibu-ibu yang duduk bersila menata dagangan, ada sepeda ontel yang berhenti untuk menurunkan penumpang, ada suara air mancur yang jatuh pelan ke kolam. Semua itu menjadi latar untuk keceriaan Iliana yang bergerak bebas, seolah dunia ini sedang memberi panggung khusus untuknya pagi itu. Bangunan besar, air mancur megah, dan hiruk pikuk kecil di belakangnya justru membuat langkahnya yang mungil terlihat semakin berarti.
Saat melihat Iliana berlari riang dengan topi miring dan piyama yang belum sempat diganti, aku menyadari bahwa kebahagiaan sering kali tidak peduli pada tempat megah atau waktu yang tepat. Kebahagiaan muncul dari hati yang jujur, tawa kecil, dan kemampuan seorang anak melihat dunia sebagai ruang bermain tanpa batas. Kadang, kita hanya perlu belajar lagi dari mereka cara menikmati pagi yang sederhana seperti ini.
