365 Hari


Matahari pagi di penghujung Desember 2025 ini muncul dengan malu-malu, seolah sungkan menyaksikan carut-marut nasib yang kami pikul sepanjang tahun. Di atas jok motor yang dulu pernah mengelupas kulitnya, Iliana, putri kecilku, duduk dengan anggun laksana seorang putri dari kerajaan antah-berantah. Ia memegang kemudi dengan jemari mungilnya, menatap lurus ke arahku dengan binar mata yang sanggup meruntuhkan segala tembok keputusasaan yang sedang kubangun tinggi-tinggi di dalam kepala.

Senyum Iliana pagi itu adalah sebuah anomali di tengah badai yang tak kunjung reda. Bagaimana mungkin seorang bocah sekecil itu bisa menebarkan cahaya sesegar embun, sementara dunia di sekelilingnya sedang rontok dan porak-poranda? Bagiku, senyum itu adalah metafora paling puitis tentang ketabahan, sebuah oase di tengah padang pasir penderitaan yang baru saja kulewati dengan kaki telanjang dan hati yang berdarah-darah.

Tahun 2025 bukanlah tahun yang ramah; ia datang layaknya deburan ombak pasang yang menyapu habis dermaga harapan kami. Kabar duka tentang berpulangnya Mas Latif menghantam kami seperti godam raksasa, meninggalkan lubang menganga di tengah keluarga yang tak mungkin lagi bisa ditambal oleh waktu. Kehilangan beliau bukan sekadar kehilangan sosok manusia, melainkan hilangnya satu pilar kebijaksanaan yang selama ini menjadi tempat kami bersandar saat badai kehidupan mengamuk.

Belum kering air mata karena kepergian Mas Latif, semesta kembali menguji nyali kami dengan kabar pahit dari Mas Herla. Ia kehilangan pekerjaannya, didepak oleh keadaan yang semakin tidak menentu, menambah daftar panjang kecemasan yang menggantung di langit-langit rumah kami. Mas Herla, lelaki yang biasanya penuh tawa itu, kini lebih banyak diam, seolah-olah sedang menghitung butiran debu yang jatuh bersamaan dengan kesedihannya.

Di kantor, keadaan tidak jauh berbeda, bahkan terasa seperti neraka kecil yang terorganisir dengan rapi dalam bentuk tumpukan pekerjaan. Beberapa hari terakhir ini, kami dipaksa bergelut dengan lembur yang tak berkesudahan, menghabiskan sisa-sisa tenaga di bawah lampu neon yang dingin sementara tubuh kami meronta ingin pulang. Jari-jemariku menari di atas tuts komputer bukan karena gairah, melainkan karena tuntutan pekerjaan.

Keletihan itu menumpuk, mengkristal menjadi kemarahan yang terpendam, membuatku sering kali lupa bagaimana caranya merasa bahagia. Aku pulang dengan pundak yang terasa memikul beban berton-ton, tidak dengan bersepeda, beberapa hari terakhir aku naik ojek saking lelahnya, membawa aroma kopi sachet dan kepenatan yang pekat, hanya untuk mendapati bahwa dunia luar masih tetap berjalan dengan angkuh tanpa mempedulikan remuk redamnya perasaanku. Aku merasa seperti sekrup kecil dalam mesin industri raksasa yang siap diganti kapan saja jika aku berani mengeluh.

Namun pagi ini, di hari terakhir tahun yang penuh duka ini, Iliana berdiri di sana, mengenakan gaun bermotif bunga kecil yang sederhana namun tampak begitu mewah di mataku. Ia tidak tahu tentang pekerjaan yang menumpuk, ia belum tahu tentang duka Mas Latif, dan ia belum paham pada nasib Mas Herla. Baginya, pagi hanyalah waktu untuk tersenyum, waktu untuk memeluk bapaknya, dan waktu untuk berimajinasi bahwa motor tua ini bisa membawanya terbang melintasi pelangi.

Aku menatapnya lama, dan perlahan-lahan, beban di pundakku terasa sedikit ringan, seolah-olah senyum tulus dari bibir kecil itu memiliki kekuatan magis untuk menguapkan segala lara. Iliana adalah bukti hidup bahwa di tengah reruntuhan bangunan impian yang hancur, Tuhan selalu menyisakan satu kuntum bunga yang mekar dengan indahnya. Ia adalah alasan mengapa aku harus tetap bangun esok pagi, meski tahun 2026 mungkin akan membawa tantangan yang lebih liar dari sebelumnya.

Kebahagiaan sejati tidak memerlukan syarat yang megah, karena ia sering kali bersembunyi di balik senyum seorang anak di pagi hari. Selama kita tidak kehilangan kemampuan untuk mensyukuri cahaya kecil di depan mata, kita tidak akan pernah benar-benar kalah oleh keadaan. Tahun mungkin berganti, namun harapan adalah satu-satunya barang mewah yang boleh dimiliki oleh siapa saja, bahkan oleh mereka yang paling papa sekalipun.