Mas Mega berjongkok di rumput yang masih menyimpan dingin pagi, Iliana berdiri di depannya, punggung kecilnya menghadap dunia yang luas. Di hadapan mereka, tiang tinggi menjulang, di puncaknya Garuda membuka sayap seperti kisah lama yang terus diulang agar tak hilang dari ingatan.
Iliana mendongak lama, diam dengan caranya sendiri. Barangkali di kepalanya belum ada kata tentang negara, sejarah, atau lambang. Yang ada hanya rasa ingin tahu, bening dan jujur, seperti pagi yang belum sepenuhnya terang. Mas Mega melihat lebih dari sekadar patung. Ia melihat perjalanan yang masih panjang, janji yang perlu dijaga, dan harapan yang tetap berdiri meski langit memilih mendung.
Anak-anak tidak perlu dunia yang sempurna, cukup seseorang yang mau menemani mereka memandang masa depan tanpa tergesa.
