Ayam atau Bebek

Aku memperhatikan Iliana, putri kecilku, yang duduk dengan kesungguhan seorang pejuang kuno yang baru saja menaklukkan sebuah kerajaan kecil. Di tangannya, sepotong ayam goreng tampak seperti piala emas yang ia menangkan dari pertempuran sengit melawan rasa lapar. Matanya yang tajam dan bibirnya yang mungil sedang bergelut dengan kenikmatan fana, sementara di latar belakang, dunia luar tetap berputar dengan hiruk-pikuknya sendiri, seolah-olah waktu sengaja berhenti hanya untuk memberi ruang bagi ritual makan yang sakral ini.

Warung di sekelilingnya, dengan kursi-kursi biru yang berderet seperti tentara bisu, menjadi saksi bisu atas nafsu makan yang jujur dan tak kenal kompromi. Iliana seolah-olah berada dalam sebuah gelembung waktu yang kedap suara, di mana aroma bumbu rempah dan uap dari dapur adalah satu-satunya bahasa yang ia pahami sore itu. Rambutnya yang sedikit berantakan tertiup angin sepoi-sepoi, membingkai wajahnya yang penuh konsentrasi, menciptakan sebuah fragmen memori yang kelak akan kuceritakan sebagai legenda tentang keberanian seorang anak kecil menghadapi seporsi hidangan.

Di kursi putihnya, ia tampak seperti seorang ratu yang memerintah dari atas singgasana plastik, tidak peduli pada orang-orang yang lalu-lalang atau lampu-lampu neon yang mulai berkedip di kejauhan. Aku menyadari bahwa dalam setiap gigitannya, ada sebuah silsilah kebahagiaan sederhana yang sedang ia bangun, sebuah kemenangan atas kesunyian malam yang mulai merayap. Aku terus menyaksikan dengan diam, membiarkan detik demi detik berlalu sebagai sebuah persembahan bagi masa kecilnya yang penuh warna, di mana setiap rasa adalah penemuan dan setiap saat adalah keabadian.