Bakso Mblenger

Malam turun dan warung itu tetap menyala. Lampu-lampu menggantung rendah, memantul di papan menu dan helm yang tersusun di pinggir jalan. Bau kuah panas naik pelan, bercampur suara sendok, tawa kecil, dan motor yang datang lalu pergi.


Meja-meja sederhana menampung lelah yang berbeda-beda. Ada yang baru pulang kerja, ada yang sengaja keluar hanya untuk semangkuk bakso. Wajah-wajah condong ke mangkuk, sejenak lupa pada jam.


Di bawah langit yang gelap, spanduk warna-warni itu menjadi penanda. Malam tidak selalu tentang pulang. Kadang ia berhenti sebentar, hangat, di depan semangkuk bakso yang mengepul.