Aku mengayuh sepeda pelan, tangan menggenggam setang seperti menggenggam hari yang tidak ingin terburu-buru. Jalan ini teduh, dipayungi pohon-pohon tua yang seakan hafal langkah siapa saja yang lewat. Aspal memanjang lurus ke depan, sunyi namun ramah, seolah berkata bahwa perjalanan tidak selalu harus ramai untuk terasa berarti.
Di kiri kanan, kehidupan berjalan dengan caranya sendiri. Orang-orang duduk, berbincang, menunggu sesuatu yang mungkin sederhana saja. Aku melaju di tengah lorong hijau itu, mendengar bunyi halus ban menyentuh jalan, merasakan angin menyapa wajah seperti sapaan sahabat lama. Di saat seperti ini, aku tahu, aku sedang tidak pergi ke mana-mana, aku sedang pulang ke diriku sendiri.
Hidup mirip mengayuh sepeda di jalan teduh. Kita perlu keseimbangan agar tetap melaju, dan ketenangan agar tahu arah. Selama kita mau mengayuh dengan sabar, jalan akan selalu memberi ruang untuk sampai.
