Sore itu kami duduk di sebuah kedai kecil di Surakarta. Anak itu Iliana, anakku. Rambutnya sedikit berantakan, senyumnya utuh, tangannya saling bertaut seolah menahan kegembiraan yang sederhana. Di meja, segelas matcha menunggu, dikelilingi minuman lain yang belum disentuh.
Setelah tiga hari di Majenang, aku kembali ke Surakarta. Perjalanan terasa singkat, tapi cukup untuk meninggalkan jejak. Di Majenang, aku baru pertama kali ke sana, sempat mencoba membeli cilok di pinggir jalan, dan belajar menikmati kota dengan ritme yang lebih pelan.
Sore di Surakarta datang tanpa tergesa. Iliana tertawa kecil, ibunya menatap dengan sabar. Majenang tertinggal sebagai ingatan, sementara Surakarta menjadi tempat kami melanjutkan hari, membawa pulang sisa-sisa sunyi yang masih hangat.