Cilok Majenang

Malam menahan napas di tepi jalan, di Majenang. Lampu putih memantul di panci, di botol saus yang berjajar, di tangan yang bekerja tanpa tergesa. Uap naik tipis dari cilok yang direbus, bulat-bulatnya menunggu diangkat, ditiriskan, dibagi.


Aku baru pertama kali sampai di sini. Tidak ada rencana khusus selain berjalan dan melihat. Gerobak kecil itu menjadi titik terang di pinggir jalan. Aku berhenti, memesan, mencoba cilok untuk pertama kalinya di Majenang. Saus dituang seperlunya, tusuk bambu disiapkan, plastik dibuka dengan satu gerak yang sudah biasa.


Motor lewat, orang datang dan pergi. Aku berdiri sebentar dengan kantong hangat di tangan, merasa seperti bagian kecil dari kota yang belum kukenal. Di jam seperti ini, Majenang tidak sedang berisik. Ia ramah pada siapa pun yang singgah.