Di Kolam Renang

Aku duduk di tepi kolam, memperhatikan Iliana, putri kecilku yang terbungkus pelampung merah muda seolah ia adalah bunga teratai yang baru mekar di atas air yang tenang. Di sekelilingnya, Kakak Jerzi, Filo, dan Ghibran bergerak dengan kegembiraan yang meluap-luap, memecah permukaan air menjadi ribuan berlian yang memantulkan cahaya senja. Aku menyaksikan mereka bukan sebagai anak-anak yang bermain, melainkan sebagai sebuah konstelasi kebahagiaan yang sedang menyusun silsilah kegembiraan mereka sendiri, sementara langit di atas Kota Surakarta ini berubah warna menjadi ungu yang melankolis.

Suara tawa mereka merambat di udara yang lembap, bercampur dengan aroma klorin dan sisa-sisa panas matahari yang mulai meredup di ufuk barat. Iliana, dengan wajahnya yang berseri-seri, seolah memiliki kemampuan magis untuk menghentikan waktu hanya dengan satu tarikan napas di dalam ban plastiknya. Aku teringat pada nubuat lama bahwa air adalah cermin dari jiwa yang belum tersentuh dosa, dan sore ini, lewat tatapan mataku sendiri, aku melihat masa depan yang cerah terpantul di setiap percikan air yang mengenai wajah-wajah tulus mereka.

Di balik pagar kaca yang membatasi kolam, deretan atap rumah dan tiang listrik berdiri seperti prajurit-prajurit bisu yang menjaga rahasia kebersamaan kami. Aku menyadari bahwa momen ini, di mana keempatnya menyatu dalam keriuhan yang damai, adalah sebuah jeda dari hiruk-pikuk dunia yang sering kali lupa cara untuk berbahagia. Aku terus memperhatikan mereka, membiarkan setiap detik meresap ke dalam ingatanku sebagai warisan yang lebih berharga daripada emas, sebuah fragmen abadi dari seratus tahun cinta yang tak akan pernah lekang oleh waktu.