Di Majenang

Pagi berdiri rapi di Kantor Pajak Majenang. Langit masih abu terang, motor-motor berbaris tenang, dan tenda biru menandai antrean yang pelan bergerak. Tidak ada yang tergesa, semua datang dengan urusan masing-masing, membawa map, nomor antrean, dan kesabaran.

Bangunan ini tidak mencoba terlihat istimewa. Ia hadir apa adanya, fungsional, seperti janji bahwa urusan akan diselesaikan satu per satu. Di halaman, roda berhenti, langkah turun, lalu orang-orang masuk bergiliran.

Bagiku, ini potongan lain dari Majenang. Bukan soal pertama kali atau tidak, melainkan tentang melihat kota bekerja. Di pagi seperti ini, Majenang terasa serius, tapi tetap bersahaja.