Malam ini, Sukoharjo terasa seperti sebuah manuskrip tua yang ditulis dengan tinta kopi dan keringat para musafir yang lelah. Aku berdiri di depan kedai bernama Heyluxs!, sebuah bangunan yang tampak seolah-olah baru saja jatuh dari langit dan mendarat di antara ruko-ruko bisu yang menyimpan rahasia abad silam. Cahaya lampu neon yang memancar dari balik kanopi biru elektrik itu menciptakan aura magis, menerangi wajah-wajah orang asing yang duduk di kursi lipat seolah-olah mereka sedang menunggu nubuat yang tak kunjung datang di bawah langit Jawa yang pekat.
Ketika aku duduk dan menyesap cairan hitam yang pahit namun jujur itu, aku merasakan kesunyian yang riuh menyelimuti seluruh penjuru Sukoharjo. Di depan sana, jalanan tampak seperti sungai gelap yang mengalir menuju ketidaktahuan, namun di sini, di bawah sorot lampu yang hangat, aku menemukan sebuah fragmen dari kebahagiaan yang fana. Aku menyadari bahwa perjalananku ke kedai ini adalah sebuah ziarah kecil untuk merayakan kehidupan, di mana setiap detik yang berlalu adalah sebuah kemenangan atas kelupaan yang selalu mengintai di balik bayang-bayang malam yang abadi.
Aku melangkah mendekat, menghirup aroma biji kopi yang terpanggang, sebuah parfum yang mampu membangkitkan ingatan tentang masa depan yang belum terjadi. Di atas meja, cangkir-cangkir mengepulkan uap es yang menari seperti hantu kecil, sementara percakapan orang-orang di sekitarku terdengar seperti desis air raksa yang mengalir di atas aspal. Kedai ini bukan tempat bernaung, melainkan sebuah pulau perlindungan di mana waktu melambat dan setiap tegukan kopi terasa seperti upaya untuk menunda takdir yang telah digariskan oleh garis tangan.