Inklusi Kesadaran Pajak

Aku menyaksikan Mas Agus Sugianto berdiri di depan mimbar yang dikepung bayang-bayang sejarah, memegang mikrofon seolah benda itu adalah satu-satunya jangkar di tengah arus waktu. Di belakangnya, spanduk biru membentangkan janji tentang inklusi kesadaran pajak, sebuah mantra modern yang ia tanamkan ke dalam benak murni anak-anak sekolah dasar. Dari tempatku duduk, aku melihatnya menatap penonton dengan sorot mata yang memantulkan ribuan sore yang telah lewat, di mana angka-angka bercampur aduk dengan aroma kertas tua.

Kemeja batik yang ia kenakan memiliki pola labirin rumit, seolah menyimpan rahasia silsilah kejujuran yang panjang. Saat ia berbicara, suaranya membelah keheningan magis ruangan, mencoba meyakinkan dunia bahwa masa depan bangsa tidak hanya dibangun dari batu, tetapi dari kesadaran halus yang tumbuh di hati anak-anak. Aku terpesona melihat caranya mengubah kewajiban yang dingin menjadi sebuah narasi tentang gotong royong yang telah diramalkan para leluhur jauh sebelum zaman ini bermula.

Kacamata yang bertengger di hidungnya tampak seperti jendela untuk mengintip takdir yang sedang ia tata lewat kata demi kata. Aku tahu bahwa penjelasannya adalah bagian dari siklus besar untuk melestarikan peradaban dari ancaman kelupaan. Di bawah cahaya lampu aula yang temaram, Mas Agus tampak seperti seorang alkemis yang sedang mengubah angka-angka menjadi emas kemakmuran, sementara aku menyaksikan dengan diam, menyadari bahwa benih yang ia tabur akan mekar menjadi hutan keadilan di masa depan.