Jalanan Malam Ini

Aspal ini adalah sungai hitam yang membeku, aliran sunyi yang membawaku menuju jantung malam. Di bawah kanopi pohon raksasa yang berbisik, lampu kota tampak seperti kunang-kunang sekarat yang berkedip cemas. Aku merasa sedang mengendarai takdir, mengejar cahaya merah di depan yang menyerupai mata iblis, sementara bayanganku sendiri tertinggal jauh di belakang, terjerat kegelapan yang pekat.

Udara membawa aroma tanah basah dan bensin lama, sebuah parfum nostalgia dari kota-kota yang hilang. Poster kuning di batang pohon itu tampak seperti surat cinta yang tak pernah sampai, memudar ditelan kelembapan malam yang merayap hantu. Di sisi jalan, bangunan temaram berdiri dengan keangkuhan melankolis, menjadi saksi bisu bagi seribu satu malam yang tak pernah diceritakan kepada siapa pun.

Setiap meter yang kutempuh adalah perjalanan melintasi waktu, di mana batas kenyataan dan mimpi menjadi kabur. Jalan ini seolah tak berujung, hanya repetisi cahaya dan bayangan yang menari dalam keheningan memekakkan. Aku menyadari bahwa aku tidak sedang menuju ke suatu tempat, melainkan melarikan diri dari kesendirian yang telah menjadi warisan silsilahku selama berabad-abad.