Di bawah papan bertuliskan DMR Kedai Teh Tarik, aku berdiri sambil menggendong Iliana, anakku, yang memeluk dunia dengan tangan sekecil itu. Lampu-lampu kedai menyala hangat, seperti niat baik yang tidak pernah diumumkan keras-keras. Mas Mega berdiri di sampingku, menunjuk ke arahku sambil tertawa, seolah kami baru saja menaklukkan sesuatu yang besar, padahal kami hanya berhasil sampai malam ini bersama.
Iliana menatap kamera dengan wajah serius yang lucu, seakan ia paham bahwa hidup ini kelak akan penuh larangan, penuh tulisan dilarang ini dan itu, seperti papan di belakang kami. Tapi malam itu, ia aman di lenganku, dan aku merasa menjadi benteng paling sederhana yang pernah ada. Teh tarik mungkin manis, tetapi kebersamaan semacam ini jauh lebih pekat rasanya. Aku tahu, suatu hari ia akan berjalan sendiri, mungkin tanpa menggenggam jariku lagi.
Hidup tidak selalu soal tempat yang kita datangi atau minuman yang kita pesan, melainkan tentang siapa yang kita peluk dalam perjalanan. Selama aku bisa menjadi tempat pulang bagi Iliana, dunia boleh saja penuh tanda larangan, sebab cinta selalu menemukan cara untuk tetap diperbolehkan.
