Malam itu lampu-lampu seperti kunang-kunang yang lupa pulang, menyala malu-malu di tepi halaman. Aku melihat Iliana, anakku, melangkah tanpa alas kaki, telapak kecilnya menyentuh lantai dingin dengan keyakinan yang belum mengenal ragu. Setiap langkahnya ringan, seolah dunia ini sengaja dibentangkan agar ia belajar berjalan di atasnya. Aku mengikutinya dengan mata, menyimpan senyum yang tak ingin cepat-cepat hilang.
Iliana berjalan seperti membawa rahasia besar tentang hidup, rahasia yang belum sempat dipelajari di bangku mana pun. Tidak tergesa, tidak takut gelap, tidak terusik oleh kendaraan yang melintas seperti kisah-kisah peringatan orang dewasa. Aku teringat diriku sendiri yang kini sering berhenti sebelum melangkah, menakar risiko seperti menakar hujan. Iliana tidak. Ia berjalan saja, dan malam memilih ramah.
Hidup tidak selalu meminta kepastian arah, kadang hanya meminta keberanian untuk melangkah dengan kaki sendiri. Dari Iliana, aku belajar bahwa keyakinan paling murni lahir dari cinta dan rasa aman, dan tugasku sebagai bapak adalah menjaga cahaya itu agar tetap menyala, bahkan ketika malam terasa panjang.
