Mie Ayam Kepuh

Aku duduk menatap semangkuk mie ayam yang mengepul pelan seperti kenangan yang baru dihangatkan. Kuahnya keruh keemasan, mie-nya putih dan lentur, ayam cincangnya berserak tanpa ambisi untuk terlihat mewah. Bawang goreng di atasnya berkilau sebentar, lalu menyerah pada uap panas. Sendok dan garpu menunggu, sabar, seperti tahu bahwa kenikmatan tidak pernah perlu tergesa.


Suapan pertama selalu menjadi penentu. Di situ aku menemukan rasa yang tidak pandai berdusta, asin yang jujur, gurih yang bersahaja, dan sedikit manis yang datang belakangan. Mie ini tidak berusaha mengesankan siapa pun. Ia hadir apa adanya, seperti obrolan singkat dengan orang lama yang tak perlu basa-basi. Di tengah hiruk sore, semangkuk mie ini seperti ruang kecil untuk diam.


Bahagia tidak selalu lahir dari hal besar. Kadang ia bersembunyi di mangkuk sederhana, disantap perlahan, di tempat yang tidak tercatat di peta kenangan siapa pun kecuali kita sendiri. Dan pulang rasanya lebih dekat setelah itu.