Aku duduk menatap semangkuk mie ayam yang mengepul pelan seperti kenangan yang baru dihangatkan. Kuahnya keruh keemasan, mie-nya putih dan lentur, ayam cincangnya berserak tanpa ambisi untuk terlihat mewah. Bawang goreng di atasnya berkilau sebentar, lalu menyerah pada uap panas. Sendok dan garpu menunggu, sabar, seperti tahu bahwa kenikmatan tidak pernah perlu tergesa.