Iliana duduk di kuda-kudaan plastik berwarna merah muda, kakinya belum sepenuhnya menapak lantai, tapi tawanya sudah sampai lebih dulu. Siang bergerak pelan ke arah sore, cahaya masuk lembut lewat jendela, memantul di alas biru dan mainan yang berserakan. Ruangan kecil ini terasa penuh, bukan oleh benda, tapi oleh hidup yang sedang belajar menyebut dunia dengan caranya sendiri.
Tangannya memeluk kepala kuda itu dengan serius, seolah sedang menyiapkan perjalanan penting. Sesekali ia menoleh, matanya mencari, lalu tersenyum ketika bertemu pandang. Tidak ada tujuan jauh, tidak ada jarak yang ingin ditaklukkan. Bermain sudah cukup menjadi alasan.
Aku berdiri memperhatikan, menyimpan momen ini dalam diam. Siang yang menjelang sore selalu punya cara sendiri untuk terasa hangat. Bersama Iliana, waktu tidak berjalan lurus. Ia melingkar, tinggal, dan membuat hal-hal sederhana terasa utuh.