Sepulang dari Tulungagung, aku membuka bungkusan oleh-oleh itu seperti membuka kembali sebuah musim yang lama tertutup debu ingatan. Botol-botol kecap, keripik, kacang, dan manisan berjejer di lantai rumah, seolah sedang berbaris rapi menunggu disebut satu per satu. Di sela-selanya, tangan kecil Iliana bertengger di atas botol, seakan benda-benda itu adalah makhluk hidup yang perlu disentuh agar tidak merasa sendirian. Bau makanan khas Tulungagung bercampur dengan bau rumah malam hari, dan tiba-tiba aku terlempar jauh ke masa ketika segalanya masih terasa ringan, ketika perjalanan hanyalah urusan rute, bukan perpisahan.
Mas Mega yang memberikannya. Teman lamaku, orang pertama yang kukenal ketika hidupku pernah singgah di Barabai, Kalimantan Selatan. Di kota kecil itu, kami berbagi hari-hari yang tak pernah kami sadari kelak akan menjadi kenangan keras kepala, menolak dilupakan. Kini, oleh-oleh ini sampai ke tanganku setelah aku, Nana istriku, dan Iliana pulang dari Tulungagung, seperti pesan sunyi yang dikirimkan alam semesta agar persahabatan tidak ikut sakit bersama tubuh manusia.
Kabar tentang Mas Mega terbaring di rumah sakit datang seperti hujan yang jatuh tanpa angin. Aku menatap makanan-makanan itu lebih lama dari yang seharusnya, seolah di dalam kemasannya tersimpan denyut nadi, tawa lama, dan langkah-langkah yang dulu kami ayunkan bersama. Aku berharap, dengan harapan yang sederhana namun keras kepala, semoga Mas Mega lekas sembuh, sehat kembali, dan suatu hari nanti kami bisa tertawa lagi, membicarakan oleh-oleh bukan sebagai tanda rindu, melainkan sebagai alasan untuk bertemu.
Mungkin bagi orang lain makanan-makanan itu tidak lebih dari sekadar oleh-oleh yang lazim dibawa pulang dari perjalanan, sesuatu yang akan habis dimakan lalu dilupakan tanpa sisa. Namun bagiku, setiap bungkus dan botolnya menyimpan denyut yang samar, seolah di dalamnya berdiam kenangan yang menolak menua. Ketika kutatap satu per satu, aku merasa sedang membaca kembali kisah hidupku sendiri, yang ditulis dengan rasa, aroma, dan perjalanan panjang yang pernah kami lalui bersama.
Aku menangis bukan semata karena makanan itu, melainkan karena segala yang dibawanya datang bersamaan. Ada langkah-langkah lama di Barabai, ada tawa yang pernah pecah di siang hari yang terik, ada persahabatan yang bertahan meski jarak dan waktu bersekongkol untuk merenggangkannya. Oleh-oleh dari Tulungagung itu menjadi saksi bisu bahwa ada orang yang masih mengingat, masih mengirimkan sepotong dirinya dalam bentuk yang paling sederhana namun paling jujur.
Air mataku jatuh pelan, bukan sebagai tanda kelemahan, melainkan sebagai pengakuan bahwa kenangan bisa lebih berat daripada apa pun yang dapat kugenggam. Di saat Mas Mega terbaring sakit, makanan-makanan itu seolah berdiri menggantikannya di hadapanku, mengabarkan bahwa persahabatan belum selesai, bahwa doa masih berjalan, dan bahwa harapan, seperti rasa yang tertinggal di lidah, tidak pernah benar-benar menghilang.
