Pagi di Sawah

Aku mencengkeram stang sepeda ini seolah-olah ia adalah satu-satunya kendali yang kupunya atas takdir yang terus bergulir di bawah roda. Di hadapanku, aspal abu-abu yang retak membentang seperti kulit raksasa yang menua, membelah hamparan sawah hijau yang tak berujung, sebuah lautan zamrud yang berbisik tentang kesuburan dan kutukan musim yang berulang. Langit di atas sana tampak muram, menyimpan awan-awan pucat yang menggantung dengan keangkuhan melankolis, seolah sedang menunggu momen yang tepat untuk mencurahkan air mata.


Di sisi kiri, parit kecil mengalirkan air yang tenang namun pasti, membawa rahasia tanah menuju muara yang tak pernah kulihat. Pepohonan di kejauhan berdiri seperti prajurit-prajurit bisu yang menjaga perbatasan antara kenyataan dan mimpi, sementara tiang-tiang listrik dengan kabel yang menjulur tampak seperti garis-garis musik dari sebuah simfoni yang terlupakan. Setiap kayuhan kakiku adalah upaya untuk melarikan diri dari kesunyian, namun semakin cepat aku melaju, semakin dalam aku terperosok ke dalam keindahan yang menyesakkan ini.


Sepeda ini membawaku melintasi jalanan yang sepi, di mana hanya ada satu atau dua musafir lain yang tampak seperti bayangan fana di cakrawala. Aku merasa seperti seorang pengembara dalam nubuat kuno, mencari jawaban di balik tikungan jalan yang tak kunjung tiba. Dalam hembusan angin yang menerpa wajah, aku menyadari bahwa perjalanan ini bukanlah tentang tujuan, melainkan tentang merayakan kesendirian di tengah kemegahan alam yang abadi, sebuah momen beku di mana waktu tak lagi memiliki makna selain perputaran roda dan detak jantung yang sunyi.