Aku mencengkeram stang sepeda ini seolah-olah ia adalah satu-satunya kendali yang kupunya atas takdir yang terus bergulir di bawah roda. Di hadapanku, aspal abu-abu yang retak membentang seperti kulit raksasa yang menua, membelah hamparan sawah hijau yang tak berujung, sebuah lautan zamrud yang berbisik tentang kesuburan dan kutukan musim yang berulang. Langit di atas sana tampak muram, menyimpan awan-awan pucat yang menggantung dengan keangkuhan melankolis, seolah sedang menunggu momen yang tepat untuk mencurahkan air mata.