Percy Jakson

Aku meletakkan buku milik Nana di atas meja kayu, seolah benda itu adalah artefak kuno yang bisa mencegah kepalaku meledak. Sampul ungunya memantulkan cahaya lampu taman, terlalu mencolok untuk ukuran buku yang sama sekali tidak berniat kubuka. Daun-daun berdesik seperti pasukan makhluk kecil yang gagal melakukan penyergapan. Kursi kosong di depanku menunggu, tenang, seperti tahu aku akhirnya menyerah pada hari ini. Siang sudah kabur. Malam masih setengah sore.


Aku tidak membuka buku itu. Serius. Buku itu hanya diam di sana, tertutup, seperti dewa yang sedang cuti dan menolak ikut campur urusan manusia. Tidak ada halaman yang dibalik, tidak ada ramalan atau takdir besar yang perlu dibaca. Dunia para dewa dan manusia tetap terkurung rapi di balik sampul, tapi anehnya keberadaannya saja sudah cukup, bercampur dengan bau tanah basah dan kayu tua yang terasa lebih nyata daripada apa pun di layar ponselku.


Aku menangkap pelajaran yang seharusnya ditulis tebal-tebal di buku panduan hidup. Istirahat tidak selalu datang dalam bentuk aksi heroik atau perjalanan jauh. Kadang ia muncul sebagai keputusan paling sederhana, duduk, diam, dan membiarkan malam mengambil alih giliran menjaga dunia.