Aku meletakkan buku milik Nana di atas meja kayu, seolah benda itu adalah artefak kuno yang bisa mencegah kepalaku meledak. Sampul ungunya memantulkan cahaya lampu taman, terlalu mencolok untuk ukuran buku yang sama sekali tidak berniat kubuka. Daun-daun berdesik seperti pasukan makhluk kecil yang gagal melakukan penyergapan. Kursi kosong di depanku menunggu, tenang, seperti tahu aku akhirnya menyerah pada hari ini. Siang sudah kabur. Malam masih setengah sore.