Permen Kaki

Aku melihat Iliana duduk manis dengan senyum yang belum mengenal tipu daya. Di tangannya ada permen merah berbentuk sederhana, namun baginya itu harta karun yang pantas dipamerkan. Matanya menyipit karena bahagia, seperti baru saja menemukan rahasia kecil yang ingin ia bagikan kepada dunia. Ruang di belakangnya berantakan oleh mainan, tapi wajahnya rapi oleh kegembiraan.

Ia mengulurkan permen itu ke arahku, bukan untuk diminta kembali, melainkan sebagai undangan. Seakan berkata bahwa kebahagiaan paling enak adalah yang dibagi. Aku menerima tatapannya lebih dulu sebelum menerima apa pun, karena dari sana aku tahu, rasa manis tidak selalu tinggal di lidah. Kadang ia menetap di dada, lama, dan hangat.

Dari momen singkat ini aku belajar bahwa memberi tidak pernah membuat sesuatu berkurang. Justru ia menambah arti pada hal yang paling kecil. Seperti permen merah di tangan Iliana, nilainya sederhana, tetapi caranya menawarkan membuat dunia terasa lebih ramah.