Aspal hitam yang basah oleh sisa gerimis itu berkilat-kilat tertimpa cahaya lampu merkuri, memantulkan bayangan dunia yang lelah namun penuh perjuangan. Aku memacu sepeda motorku pelan, membelah keheningan malam yang pekat di gang ini, di mana aroma tanah basah dan sisa-sisa pengap kota berebut masuk ke rongga dada. Di kiri dan kanan, pagar-pagar rumah berdiri membisu seperti saksi bisu atas ribuan nasib yang sedang beristirahat, sementara lampu-lampu kendaraan dari arah berlawanan sesekali menyilaukan mata, mengingatkanku bahwa aku bukan satu-satunya jiwa yang sedang bertarung dengan waktu demi menjemput hari esok yang lebih baik.
Ada semacam romantisme yang getir saat menatap sorot lampu mobil yang membasuh jalanan di depanku, menciptakan siluet pohon-pohon palem yang melambai layaknya tangan-tangan yang menyemangati seorang musafir. Pulang kerja di jam seperti ini adalah sebuah elegi tentang pengabdian; tentang bagaimana seorang manusia rela menukar peluh dan kantuknya dengan selembar harapan. Di atas aspal yang licin ini, roda motorku berputar sinkron dengan degup jantung yang merindukan bantal dan kehangatan rumah, sebuah simfoni kecil bagi mereka yang percaya bahwa rezeki tidak akan tertukar meski dicari di balik selimut malam yang paling gulita.
Lelah adalah bentuk syukur yang paling jujur dari seorang hamba yang masih diberi kesempatan untuk berusaha. Jalanan malam yang sunyi ini mungkin terlihat sekadar rute menuju rumah, tapi bagiku ini sebuah jembatan martabat yang menghubungkan antara kerja keras dan keberkahan. Sebab sesungguhnya, kemenangan sejati bukanlah terletak pada besarnya upah yang dibawa pulang, melainkan pada ketulusan hati yang tetap tegak berdiri meski raga telah babak belur dihantam penat, karena setiap jengkal aspal yang kita lalui dengan niat suci akan menjadi saksi di hadapan Sang Pemilik Semesta.
