Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati mengisahkan perjalanan emosional Ale, pria berusia 37 tahun yang hidup dalam kesendirian dan depresi akibat penolakan sosial yang dialaminya sejak kecil hingga dewasa. Ale, yang hidup di lingkungan yang tidak mendukung dan sering menjadi korban perundungan, merasa hidupnya tidak berarti dan memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Ia merencanakan kematiannya dengan sungguh-sungguh, tetapi sebelum mengambil keputusan itu ia ingin menyantap seporsi mie ayam, makanan sederhana yang menjadi simbol terakhir dari hidup yang pernah ia rasakan.
Sepanjang cerita, momen makan seporsi mie ayam menjadi titik balik dalam hidup Ale. Saat mencari makanan itu ia justru mengalami peristiwa dan pertemuan yang tidak terduga, yang membuka perspektif baru tentang makna hidup dan hubungan antarmanusia. Kisah ini tidak hanya menampilkan pergulatan batin Ale dengan depresi dan kesedihan tetapi juga memasukkan pengalaman orang-orang nyata yang pernah mengalami kondisi serupa, sehingga pesan tentang kesehatan mental dan alasan untuk bertahan hidup tersampaikan secara kuat.
Novel ini dikemas dengan gaya bahasa yang ringan, mudah dibaca, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, meskipun mengangkat tema berat seperti depresi dan krisis eksistensial. Melalui perjalanan Ale, pembaca diajak merenungkan tentang hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian, serta bagaimana hal-hal kecil seperti seporsi mie ayam bisa menjadi alasan untuk terus hidup dan menemukan harapan dalam kegelapan.
Sepanjang cerita, momen makan seporsi mie ayam menjadi titik balik dalam hidup Ale. Saat mencari makanan itu ia justru mengalami peristiwa dan pertemuan yang tidak terduga, yang membuka perspektif baru tentang makna hidup dan hubungan antarmanusia. Kisah ini tidak hanya menampilkan pergulatan batin Ale dengan depresi dan kesedihan tetapi juga memasukkan pengalaman orang-orang nyata yang pernah mengalami kondisi serupa, sehingga pesan tentang kesehatan mental dan alasan untuk bertahan hidup tersampaikan secara kuat.
Novel ini dikemas dengan gaya bahasa yang ringan, mudah dibaca, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari, meskipun mengangkat tema berat seperti depresi dan krisis eksistensial. Melalui perjalanan Ale, pembaca diajak merenungkan tentang hal-hal sederhana yang sering luput dari perhatian, serta bagaimana hal-hal kecil seperti seporsi mie ayam bisa menjadi alasan untuk terus hidup dan menemukan harapan dalam kegelapan.