Setelah Hujan

Tanganku mantap di setang sepeda, sementara jalan basah memantulkan langit yang baru saja selesai menangis. Ubin-ubin abu itu licin, tapi tenang, seolah memberi izin untuk melaju pelan. Pepohonan berdiri rapi di kiri kanan, daun-daunnya masih menyimpan sisa hujan, udara terasa bersih dan dingin di dada.

Aku mengayuh tanpa tujuan yang ingin cepat dicapai. Setiap putaran roda seperti menghapus satu per satu suara yang menumpuk di kepala. Jalan ini panjang, lurus, dan lengang, membuatku sadar bahwa bergerak tidak selalu tentang sampai, kadang hanya tentang tetap hidup di tengah jeda.

Di depan, pantulan air memecah bayangan pepohonan dan langit menjadi bentuk-bentuk yang tidak utuh. Aku menyukainya. Tidak semua hal perlu jelas, tidak semua arah harus pasti. Cukup terus mengayuh, membiarkan sore menyusun pikirannya sendiri.