Sore ini aku berjalan pelan di belakang Iliana, anakku, yang menuntun sepeda kecil berwarna merah muda dengan wajah penuh tawa. Rambutnya basah oleh keringat dan angin, pipinya merah seperti senja yang belum tahu kapan harus pulang. Tangannya menggenggam setang dengan keyakinan yang belum tercemar ragu. Di jalan tanah ini, ia merasa dunia cukup selebar langkah kakinya.
Iliana tertawa setiap kali roda sedikit oleng, seolah jatuh adalah bagian lucu dari permainan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Aku melihat keberanian tumbuh tanpa diumumkan, muncul dari hal-hal sederhana, dari sore yang tidak direncanakan. Rumah-rumah dan pepohonan menjadi saksi diam bahwa seorang anak sedang belajar percaya pada dirinya sendiri.
Dari sore bersama Iliana, aku paham bahwa tugas orang tua bukan membuka jalan yang lurus dan aman saja. Kadang cukup berjalan di belakang, siap menangkap jika ia hampir terjatuh, sambil membiarkan ia merasakan serunya menjaga keseimbangan. Sebab hidup, seperti sepeda kecil itu, lebih mudah dijalani ketika kita berani mengayuhnya sendiri.
Iliana tertawa setiap kali roda sedikit oleng, seolah jatuh adalah bagian lucu dari permainan, bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Aku melihat keberanian tumbuh tanpa diumumkan, muncul dari hal-hal sederhana, dari sore yang tidak direncanakan. Rumah-rumah dan pepohonan menjadi saksi diam bahwa seorang anak sedang belajar percaya pada dirinya sendiri.
Dari sore bersama Iliana, aku paham bahwa tugas orang tua bukan membuka jalan yang lurus dan aman saja. Kadang cukup berjalan di belakang, siap menangkap jika ia hampir terjatuh, sambil membiarkan ia merasakan serunya menjaga keseimbangan. Sebab hidup, seperti sepeda kecil itu, lebih mudah dijalani ketika kita berani mengayuhnya sendiri.