Sore Ini

Sore ini rumah seperti menarik napas panjang setelah hujan. Jalanan di depan pagar masih basah, memantulkan langit yang sedang belajar menjadi senja. Kabel listrik membelah awan pucat keemasan, seperti garis tangan yang mengingatkan bahwa hari hampir selesai. Rumah-rumah berdiri diam, seakan sepakat memberi ruang bagi cahaya terakhir untuk singgah sebentar.


Aku berdiri memandangi lorong kecil ini dengan perasaan yang sulit diberi nama. Tidak ada suara selain tetes air yang terlambat jatuh dan langkah waktu yang pelan. Di genangan, langit tampak lebih dekat, seolah bisa disentuh jika aku berani membungkuk sedikit. Sore membuat segalanya jujur, memperlihatkan letih tanpa perlu mengeluh.


Aku tahu bahwa pulang tidak selalu berarti sampai ke pintu. Kadang cukup berdiri, menatap langit yang berubah warna, dan menyadari bahwa hari ini telah memberi apa yang ia mampu. Selebihnya, kita simpan di hati, untuk esok yang pasti datang.