Tahun Baru

Aku melihat Iliana terlelap di siang yang merambat pelan menuju sore. Kepalanya bersandar pada bantal, sementara sebuah buku warna biru tergeletak, seolah baru saja kalah oleh kantuk. Tangannya masih setia menggenggam halaman, dan napasnya naik turun dengan tenang, seperti waktu yang sengaja melambat agar momen ini tak cepat berlalu. Cahaya siang masuk lembut, tidak ingin mengganggu perjanjian damai antara anak, buku, dan lelah.


Sebelum tidur, mungkin Iliana sempat berjalan-jalan di dalam cerita, bertemu gambar-gambar yang membuat matanya berbinar dan pikirannya berlari. Buku itu jadi pintu kecil menuju dunia yang belum ia kenal, dunia yang kelak akan ia datangi dengan caranya sendiri. Lalu rasa letih datang diam-diam, menidurkannya di tengah perjalanan, tanpa perlu tanda titik atau kata selesai.


Dari Iliana yang tertidur sambil memeluk buku, aku mengerti bahwa belajar tidak selalu harus selesai dan sempurna. Ada kalanya ia berhenti di tengah halaman, beristirahat, lalu melanjutkan esok hari dengan kepala yang lebih segar. Begitulah hidup seharusnya berjalan, memberi ruang bagi jeda, karena dari jeda itulah tumbuh rasa ingin tahu yang panjang umurnya.