Aku melihat Iliana terlelap di siang yang merambat pelan menuju sore. Kepalanya bersandar pada bantal, sementara sebuah buku warna biru tergeletak, seolah baru saja kalah oleh kantuk. Tangannya masih setia menggenggam halaman, dan napasnya naik turun dengan tenang, seperti waktu yang sengaja melambat agar momen ini tak cepat berlalu. Cahaya siang masuk lembut, tidak ingin mengganggu perjanjian damai antara anak, buku, dan lelah.