Tatapan Iliana

Aku menatap Iliana, putri kecilku, yang duduk dengan keheningan seorang peramal tua yang telah melihat akhir dunia dalam cangkir susunya. Matanya yang gelap dan dalam seolah menyimpan rahasia tentang silsilah keluarga kami yang panjang, memantulkan cahaya dari masa depan yang belum terjamah. Di wajahnya yang bulat, ada keteguhan yang aneh, sebuah ekspresi yang mengingatkanku pada leluhur yang mampu menghentikan hujan hanya dengan pandangan mata, sementara rambutnya yang berantakan tertiup angin imajiner dari negeri-negeri yang hanya ada dalam mimpinya.

Ia mengenakan baju bermotif pohon palem dengan warna senja yang membara, seolah-olah ia membawa seluruh musim panas tropis di pundaknya yang mungil. Ada keajaiban yang nyata saat ia mengatupkan bibirnya rapat-rapat, sebuah pemberontakan diam terhadap waktu yang terus merayap maju tanpa ampun. Di telinganya, anting kecil berkilau seperti bintang jatuh yang tersangkut, menjadi saksi bisu bagi percakapan antara Iliana dan hantu-hantu masa kecil yang sering datang berkunjung saat rumah sedang sepi.

Aku menyadari bahwa putriku bukan anak kecil, melainkan sebuah fragmen dari puisi yang ditulis dengan tinta abadi. Ia adalah pusat dari alam semesta kecil kami, sebuah mercusuar di tengah badai kehidupan yang sering kali melupakan cara untuk berhenti sejenak dan mengagumi kemurnian. Aku terus memandangnya, berusaha merekam setiap garis wajahnya ke dalam ingatanku, karena aku tahu bahwa keheningan Iliana adalah musik paling merdu yang pernah kudengar dalam hari - hari sibukku.