Tenang

Aku berdiri di tepi hamparan hijau yang mulai gelap, sementara langit sibuk merapikan warnanya sendiri. Jingga dan ungu bertukar tempat dengan sabar, seolah sore ingin pamit tanpa membuat siapa pun merasa kehilangan. Rumah-rumah di kejauhan tampak kecil, tapi cukup untuk menandai bahwa manusia menetap di sini. Angin membawa bau tanah basah, mengingatkanku pada masa-masa ketika waktu berjalan lebih lambat.

Mataku mengikuti garis cahaya yang menipis di cakrawala. Tidak ada suara yang benar-benar menonjol, hanya kehidupan yang berlangsung apa adanya. Ladang ini tidak menuntut apa pun dariku, selain kehadiran. Aku merasa menjadi bagian kecil dari sesuatu yang lebih luas, lebih tenang, dan tidak tergesa.

Ada hari yang cukup dilepas dengan menatap langit dan mengizinkan diri sendiri merasa utuh. Ketika cahaya terakhir pergi, ia meninggalkan ketenangan yang bisa dibawa pulang.