Aku berhenti sejenak di pinggir jalan, sementara sebuah truk panjang berdiri seperti jeda yang disengaja. Badannya putih, polos, nyaris tanpa cerita, tapi jelas ia datang dari perjalanan yang tidak pendek. Langit biru menggantung tenang di atasnya, awan bergerak perlahan, seolah tidak peduli pada berat muatan yang sedang menunggu waktu untuk kembali berjalan.
Di balik dinding besi itu, aku membayangkan jarak yang telah ditempuh. Kota yang ditinggalkan subuh tadi, jalan yang dilewati tanpa diingat, dan tujuan yang mungkin belum sepenuhnya dekat. Truk ini tidak mengeluh, tidak pula pamer. Ia hanya hadir, mengangkut keperluan orang lain, lalu melanjutkan hidupnya di aspal yang sama, hari demi hari.
Tidak semua perjalanan perlu disaksikan, tidak semua lelah perlu diceritakan. Ada yang cukup terus bergerak, setia pada arah, sampai akhirnya tiba tanpa perlu sorak.