Kami duduk di tengah jalan yang sepi dan panjang, aku, Iliana, dan Nana, seolah dunia sengaja memberi kami jeda. Pepohonan di kanan kiri berdiri rapi seperti murid teladan, menaungi langkah kecil yang belum jauh melangkah. Aspal terasa dingin di telapak tanganku, sementara Iliana duduk di antara kami, memeluk mainannya, menatap ke belakang dengan mata yang menyimpan tanya sebesar langit yang hijau.
Nana duduk tenang, menghadap jalan panjang yang entah ke mana ujungnya, tapi aku tahu hatinya menghadap masa depan. Aku memandangi Iliana, anak kecil dengan keberanian yang masih polos, yang belum tahu bahwa hidup kelak akan meminta banyak hal darinya. Angin berembus pelan, membawa aroma daun dan tanah, seperti bisikan alam yang berkata bahwa semuanya baik-baik saja, setidaknya untuk hari itu.
Duduk bersama di jalan sunyi mengajarkanku bahwa tujuan hidup bukan hanya sampai, tetapi menemani dan ditemani. Sebab dari kebersamaan yang sederhana itulah, seorang anak belajar tentang rasa aman.
