Waktu Luang

Waktu luang terasa seperti sesuatu yang dulu akrab, kini asing. Ia pernah hadir tanpa diminta, mengalir di sela sore yang panjang, di bangku kampus yang teduh, di percakapan yang tidak dikejar jam. Sekarang, bahkan saat kita berhenti sejenak, pikiran tetap berlari. Tubuh diam, tetapi waktu tetap terasa menekan.

Kesibukan hari ini bukan hanya soal banyaknya pekerjaan, melainkan tentang rasa harus selalu hadir, selalu merespons, selalu terlihat produktif. Waktu luang tidak lagi kosong, ia diisi notifikasi, tenggat, dan kecemasan yang menyamar sebagai kewajiban. Kita menyebutnya istirahat, padahal hanya memindahkan lelah dari satu layar ke layar lain.

Mungkin yang hilang bukan semata waktu luang, melainkan keberanian untuk membiarkan diri tidak melakukan apa-apa. Dulu, diam tidak perlu alasan. Kini, diam terasa seperti kesalahan. Padahal di sanalah manusia sempat mendengar dirinya sendiri, sebelum dunia kembali meminta segalanya.